Bagikan

Danantara Ungkap Bahaya jika Proyek Pengolah Sampah Jadi Listrik Tak Segera Dikebut

Poin Penting

BPI Danantara menyebut Indonesia dalam kondisi darurat sampah dengan produksi 35–50 juta ton per tahun.
Hanya 38–40% sampah yang dikelola, sisanya menumpuk di TPA hingga melebihi kapasitas seperti Bantargebang dan Leuwigajah.
Danantara menggagas proyek waste to energy untuk mengubah sampah menjadi energi listrik ramah lingkungan.

JAKARTA, investortrust.id - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengungkap bahaya di balik limbah sampah yang semakin mengancam kehidupan saat ini hingga masa mendatang. Bahkan Danantara menilai masalah sampah di Indonesia saat ini sudah masuk ke dalam kategori darurat.

Atas dasar permasalahan tersebut, BPI Danantara melalui PT Danantara Investment Management (Persero), menginisiasi untuk segera mengebut proyek waste to energy atau pengolah sampah berbasis teknologi ramah lingkungan menjadi energi listrik (PSEL).

"Kalau kita sekarang duduk di sini, kita melihat memang wah keliatannya di sekitar kita rapih, bagus. Nmaun, sebenarnya kalau lebih jauh kita lihat, masalah sampah ini sudah sangat darurat di Indonesia, bukan cuman di Jakarta ya, tapi dimana-mana," kata Managing Director Danantara Investment Management, Stefanus Ade Hadiwidjaja, dalam media briefing di kompleks Wisma Danantara, Jakarta, Senin (3/11/2025).

Baca Juga

Sampah Jadi Cuan, Elnusa (ELSA) Bikin Desa Mundu di Indramayu Naik Kelas

Stefanus Ade mengatakan, setidaknya 35-50 juta ton sampah dihasilkan setiap tahunnya. Dari data yang dipegang oleh Danantara, ia menyebut dari puluhan juta ton sampah yang dihasilkan setiap tahun, hanya sekitar 38-40% yang dikelola atau ditempatkan di tempat pembuangan akhir (TPA).

Ia melanjutkan, idealnya sampah-sampah tersebut kemudian dikelola dengan berbagai langkah seperti di-recycle atau dimusnahkan. Namun, ia menyebutkan 60% sampah yang ada di TPA justru hanya didiamkan tanpa tindakan lanjut. "Tidak terkelola kan artinya terbuang sembarangan, ini data dari Kementerian Lingkungan Hidup. Ada yang dibakar di depan rumah, jadi kadang itu menyebabkan polusi juga. Jadi ini isu besar," terangnya.

Bahkan ia menggambarkan, apabila seluruh sampah di Indonesia dikumpulkan setiap tahunnya, maka akan mampu menutup wilayah Jakarta dengan ketebalan mencapai 20 cm. Kemudian ia menemukan masalah lain, yakni adanya TPA di kota-kota besar yang sudah melewati kapasitas penampungan. Beberapa di antaranya seperti TPA Bantargebang di Bekasi, TPA Jatibarang di Semarang, dan TPA Leuwigajah di Cimahi.

Ilustrasi sampah. (Farhan Nugraha)
Source: Investortrust

Ia mencontohkan, TPA Bantargebang yang memiliki luas mencapai 110 hektare tidak mampu lagi menampung sampah-sampah yang datang dari Jakarta. Ia menggambarkan, ketebalan sampah di Bantargebang kini setara dengan gedung 10-15 lantai. "Total sampah yang terkumpul di Bantargebang per hari itu 55 juta ton. Kalau 55 juta ton itu dari Bantargebang ditarik balik ke Jakarta, itu hampir seluruh Jakarta ketutup. Itu baru kita ngomong satu kota, Jakarta saja, belum yang lain," ungkapnya.

Contoh lain disebutkan oleh Stefanus Ade adalah TPA Leuwigajah di Cimahi, yang menampung sampah dari Bandung, Jawa Barat. Ia bercerita, pernah terjadi insiden longsor akibat sampah yang melebihi kapasitas TPA Leuwigajah sehingga menyebabkan adanya korban jiwa. "Pernah ada longsor dan saya punya data-data itu. Sampai 150 orang tertimbun (sampah) dan ada sebagian besar yang tidak ditemukan," bebernya.

Baca Juga

Program TJSL Olah Sampah Likupang Hasilkan Nilai Manfaat Rp 6,06 Miliar

Mantan direktur Indonesia Investment Authority (INA) itu menekankan, Danantara memiliki mandat untuk tidak hanya mengejar imbal hasil yang tinggi dari setiap proyek investasinya. Lebih dari, Danantara disebutkan oleh Stefanus, memiliki mandat untuk dapat memberikan dampak baik dari sisi ekonomi maupun sosial.

"Nah ini ada satu project yang bener-bener bisa menjawab juga kedua hal ini, yaitu waste to energy. Saya cerita dulu ini makanya, kalau kita ngomong waste to energy yang selalu ditekankan itu tujuan utamanya bukan energy generation. Tujuan utamanya adalah untuk membersihkan lingkungan," kata dia menjelaskan.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024