Dari Negosiasi AS-China, Rupiah Dapat Angin Segar
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Senin (27/10/2025), mencerminkan optimisme pasar terhadap perkembangan negosiasi dagang global. Sementara pada penutupan, rupiah di level Rp 16.628 per dolar AS atau menguat dibandingkan posisi penutupan Jumat (24/10/2025) di sekitar Rp 16.630 per dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp 16.592 hingga Rp 16.634 per per dolar AS. Dalam catatan Bank Mandiri, nilai tukar mata uang Garuda sempat melemah tipis 0,12% ke Rp 16.615 per dolar AS.
Baca Juga
BI Rate Tetap, Rupiah Menguat Tipis di Tengah Tekanan Dolar AS
“Sentimen investor membaik setelah pejabat dari AS dan China mengonfirmasi adanya kemajuan dalam negosiasi yang tengah berlangsung untuk meredakan ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia,” jelas Andry.
Sementara kinerja bursa saham Asia turut menjadi pendorong penguatan rupiah. Indeks Nikkei naik 2,5% ke level 50.512, sementara Shanghai Composite Index menguat 1,2% ke level 3.997. Optimisme ini muncul setelah perkembangan positif dalam perundingan dagang antara Amerika Serikat dan China, yang memicu aliran modal kembali ke pasar negara berkembang.
Namun, di sisi domestik, indeks harga saham gabungan (IHSG) justru mencatat penurunan 1,9% ke level 8.117. Penurunan paling tajam terjadi di sektor energi dan properti, menandakan adanya aksi ambil untung setelah reli yang cukup panjang pada minggu sebelumnya.
Investor Pantau Tinjauan MSCI dan Pergerakan Obligasi
Pelaku pasar juga menunggu hasil tinjauan indeks setengah tahunan MSCI yang dijadwalkan berlangsung pekan ini. Pembaruan komposisi indeks dan penyesuaian bobot saham berpotensi mendorong pergerakan portofolio jangka pendek di kalangan investor institusional.
Baca Juga
Dolar AS Kembali Perkasa di Pasar Asia, Rupiah Melemah Tipis
“Perubahan berkala seperti ini biasanya diikuti dengan rebalancing portofolio oleh investor global, terutama jika ada saham-saham besar yang keluar atau masuk daftar indeks utama,” kata Andry.
Nilai transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat Rp 29,7 triliun, sehingga rata-rata nilai transaksi harian sepanjang 2025 mencapai Rp 16,4 triliun. Investor asing juga mencatat arus masuk bersih sebesar Rp 1,2 triliun, menandakan kepercayaan terhadap stabilitas pasar domestik.
Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik 0,5 basis poin (bps) menjadi 6,00%, sedangkan imbal hasil obligasi global (INDON) tenor 10 tahun turun 0,1 bps menjadi 4,8%. Kepemilikan asing atas obligasi pemerintah per 23 Oktober 2025 tercatat Rp 885,2 triliun atau 13,74% dari total surat utang yang beredar.

