Harga Sawit Tinggi Jadi Penghambat Peremajaan Sawit Rakyat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Eddy Abdurachman mengungkapkan alasan tak maksimalnya program peremajaan kelapa sawit rakyat. Menurutnya, tingginya harga tandan buah segar (TBS) membuat pekebun enggan mengikuti program tersebut.
“Harga sawit saat ini, khususnya harga tandan buah segar (TBS), sedang tinggi sehingga para pekebun tidak ingin memanfaatkan program peremajaan,” ujar Eddy dalam acara Perjanjian Kerja Sama Program Pendidikan dan Pengembangan SDM Perkebunan 2025 di Jakarta, Rabu (20/8/2025).
Berdasarkan data Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Selatan, harga TBS pada periode pertama Agustus 2025 naik rata-rata 6,85% karena harga crude palm oil (CPO) meningkat 6,91% menjadi Rp13.943,56 per kilogram.
Baca Juga
Harga CPO Global Menguat, Saham Emiten Sawit Berpotensi Cuan di Tengah Risiko Tarif Trump
Harga TBS terendah tercatat pada tanaman berusia 3 tahun senilai Rp2.651,71 per kilogram, sementara harga tertinggi terdapat pada tanaman berusia 10–20 tahun yang mencapai Rp3.274,01 per kilogram.
Eddy menambahkan, meskipun produktivitas kebun sawit tua relatif rendah, kenaikan harga TBS tetap memberikan pendapatan yang lebih baik bagi pekebun. Hal ini membuat mereka enggan melakukan peremajaan.
“Program peremajaan kelapa sawit dilakukan secara sukarela, sehingga bergantung pada kesediaan petani untuk ikut serta,” jelasnya.
Sejak BPDPKS berdiri, target peremajaan kelapa sawit ditetapkan 180.000 hektare per tahun. Namun, realisasi masih jauh dari harapan. “Capaian tertinggi terjadi pada 2019 seluas 94.000 hektare dan 2020 seluas 90.000 hektare. Setelah itu menurun lagi, rata-rata hanya sekitar 40.000–50.000 hektare per tahun,” kata Eddy.

