Victor Hartono Ungkap Kisah Sukses Grup Djarum, dari Pabrik Petasan, Suksesi, hingga Konglomerasi Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Berawal dari perusahaan petasan yang ludes karena kebakaran hebat pada 1951, Djarum bertransformasi menjadi perusahaan rokok dan kini menjadi perusahaan multisektor, mulai perbankan, properti, elektronik, kuliner, hotel, consumer, goods, teknologi, gula, hingga otomotif. Djarum adalah cerita tentang sukses suksesi dan profesionalisasi bisnis keluarga.
Generasi pertama memulai, generasi kedua membesarkan, dan generasi ketiga menglobalkan, bukan meruntuhkan. Victor Rachmat Hartono, putra tertua keluarga Hartono, mempunyai peran strategis atas sukses yang telah diraih, serta rencana Djarum ke depan.
Dalam acara Meet The Leaders 5 bertajuk "Djarum: A Story of Strategic Succession di Universitas Paramadina, Jakarta, Sabtu (26/7/2025), Victor Rachmat Hartono yang saat ini juga merupakan presiden direktur Djarum Foundation dan chief operating officer (COO) PT Djarum mengungkapkan kiprah perusahaannya yang mampu meraup sukses dari generasi ke generasi. Menurut Victor, semua proses yang dijalani tidak mudah.
Victor mengisahkan bahwa bisnis keluarga Djarum pada awalnya bukan industri rokok, melainkan perdagangan minyak kacang di masa kolonial. Namun, dengan masuknya kelapa sawit dari Afrika yang lebih produktif, minyak kacang perlahan tersingkir dari pasar.
Efisiensi panen kelapa sawit yang bisa mencapai 12 kali setahun menjadi alasan utama pergeseran ini. Dari situ, keluarga Hartono menyadari bahwa tidak ada bisnis yang kebal terhadap disrupsi teknologi dan dinamika pasar.
Victor kemudian membawa audiens menyelami jejak sejarah keluarga besarnya, dimulai dari generasi ketujuh, yaitu kakeknya, Oei Wie Gwan, yang datang dari Fuzhou, China, dan merintis usaha pabrik mercon dengan merek dagang Cap Leo. Sayangnya, usaha tersebut berkali-kali runtuh.
Pada 1939, pabrik mercon meledak dan menyebabkan kebangkrutan. Usaha dibangun kembali, tetapi 2 tahun kemudian dirampok dan dibakar. Puncaknya, pada 1942, pendudukan Jepang membuat usaha ini tak bisa beroperasi karena larangan total produksi bahan peledak.
Baca Juga
Didukung Sentimen Grup Djarum dan Peluang Masuk MSCI, Saham SSIA bisa Menuju Level Ini
"Jadi kalau sampai ada yang tanya, kok Djarum ekspansi kanan kiri kanan maksudnya karena serakah kah? Kamu enggak ngerti betapa insecure-nya kita? Ini dasarnya karena ada insecure family tahu enggak? Yang pernah ngalami industri-nya gone, either gone gara-gara kelapa sawit atau gone gara-gara Jepang. It's just gone. You don't know how insecure we are," jelas Victor.
Sejalan dengan hal itu, Victor yang merupakan generasi kesembilan keluarga besar Hartono Group mengatakan bahwa pengalaman pahit keluarganya menjadi pelajaran penting bahwa industri yang digeluti saat ini belum tentu relevan di masa mendatang. "Pelajaran besarnya adalah, kondisi politik dan internasional bisa membuyarkan semua asumsi keberlanjutan bisnis," ujar Victor.
Selain tantangan eksternal, Victor memaparkan bahwa ancaman bisnis justru sering kali datang dari dalam keluarga. Beragam perselisihan mulai masalah arus kas yang macet, kepemimpinan, hingga pembagian dividen yang tidak adil disebutnya sebagai bom waktu yang bisa menggoyahkan bisnis keluarga.
Oleh karena itu, dari pengalaman panjang dan pahit tersebut, Victor pun berbagi pandangannya mengenai strategi keberlanjutan bisnis keluarga. Menurut Victor, penting untuk memiliki kejelasan dalam struktur kepemimpinan. Pemimpin utama sebaiknya hanya satu agar arah bisnis tetap terjaga dan konflik dapat diminimalisir.
Kemudian, Victor juga membeberkan bahwa pembagian peran antaranggota keluarga yang terstruktur menjadi kunci keberlanjutan bisnis, di samping menjaga kekompakan internal keluarga besar, serta keterbukaan untuk menjual sebagian kepemilikan kepada mitra bisnis yang lebih kuat secara finansial maupun strategis. "Ini bukan kekalahan, tetapi strategi memperkuat daya saing jangka panjang," ungkap Victor.
Baca Juga
Grup Djarum Tuntaskan Akuisisi 40% Saham Remala Abadi (DATA), Nilainya Jumbo
Lebih lanjut, Victor menyebut, regenerasi tidak boleh berhenti pada pewarisan nama, tetapi harus menghasilkan pelaku bisnis sejati yang mampu membaca zaman. "Kalau bisa, dari keluarga itu harus lahir satu, dua, sampai empat orang yang benar-benar menjadi konglomerat. Bukan hanya pewaris nama, tetapi pelaku bisnis sejati yang bisa membaca zaman," pungkas Victor.

