Bandara Kualanamu Bisa Menjadi Hub Internasional, Lion Air Bocorkan Alasannya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Presiden Direktur Lion Air Group Daniel Putut Kuncoro Adi menyebutkan, Bandara Internasional Kualanamu (KNO) di Sumatera Utara (Sumut) memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai hub internasional penerbangan Indonesia.
Daniel mengungkapkan, pihaknya telah memiliki jaringan penerbangan internasional yang luas melalui maskapai Lion Air di Malaysia dan Thailand. Lion Air telah membuka konektivitas dari Jakarta ke berbagai destinasi internasional, seperti Bandara Internasional Tashkent di Uzbekistan, Bandara Internasional Velana di Maldives, Bandara Internasional Tribhuvan di Kathmandu, enam kota di India, dua kota di Pakistan hingga ke Korea, Jepang, China, dan Taiwan.
Baca Juga
Garuda Dorong RUU Ruang Udara Demi Hemat Avtur dan Tekan Harga Tiket
“Itu kita sudah terhubung, kita sudah mempunyai jaringan internasional melalui (Bandara Internasional) Kuala Lumpur,” ungkap Daniel dalam rapat bersama Panitia Khusus (Pansus) DPR tentang Pengelolaan Ruang Udara dengan maskapai Garuda Indonesia Group, Sriwijaya Air, dan Pelita Air melalui kanal YouTube TV Parlemen, dikutip Selasa (1/7/2025).
Seiring hal tersebut, Daniel menyampaikan, Bandara Internasional Kualanamu (KNO) memiliki potensi dijadikan hub penerbangan internasional Indonesia. Namun, dia tak menampik hal ini harus menyesuaikan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pengelolaan Ruang Udara (PRU)..
“Sebetulnya, kalau kita lihat antara lokasi Kuala Lumpur dan Kualanamu, Kualanamu juga bisa menjadi hub internasional untuk Indonesia. Namun, memang kita harus bicarakan tata ruang udara, khususnya di beberapa area, seperti di Kualanamu (Medan), kemudian di Batam, Natuna, dan di Pontianak,” jelas Daniel.
Di sisi lain, Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) WamildanTsani Panjaitan meminta kepada Badan Legislatif (Baleg) DPR agar mempercepat Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pengelolaan Ruang Udara (PRU) guna meningkatkan efisiensi operasional penerbangan komersial.
Dalam paparannya kepada Panitia Khusus (Pansus) DPR, Wamildan mencontohkan rute eksisting penerbangan Garuda dari Jakarta-Denpasar saat ini menempuh jarak 605 nautical mile (NM) dengan kebutuhan bahan bakar atau avtur 4.353 kilogram (kg) dan waktu tempuh sekitar 2 jam 3 menit.
Baca Juga
Ditanya Suntikan Dana untuk Garuda, Bos Danantara: Kita Mau Masukkan Talenta Global!
“Apabila kita menarik garis lurus, saat kita berangkat dari Jakarta menuju Denpasar, memang ada pemotongan jarak 4 nautical mile dan penghematan fuel (menjadi 4.332 kilogram), serta waktu lebih singkat kurang lebih 1 menit. Namun, ini akan memotong daerah latihan (wilayah TNI AU) yang ada di (Lanud) Iswahjudi atau Madiun,” jelas Wamildan dalam rapat bersama Pansus DPR tentang Pengelolaan Ruang Udara dengan maskapai Lion Air Group, Sriwijaya Air, dan Pelita Air melalui kanal YouTube TV Parlemen, dikutip Selasa (1/7/2025).
Sementara untuk rute Denpasar-Jakarta, lanjut Wamildan, pihaknya saat ini menggunakan jalur ke arah utara sepanjang 670 NM dengan kebutuhan bahan bakar 4.609 kg dan waktu tempuh 2 jam 3 menit.
Menurutnya, jika rute dialihkan menjadi garis lurus sepanjang 652 NM, bahan bakar yang dibutuhkan turun menjadi 4.511 kilogram dengan waktu tempuh sekitar 2 jam 1 menit. “Komparasinya, terdapat selisih jarak sejauh 22 nautical mile dengan penghematan bahan bakar 119 kilogram, tetapi hanya menghemat waktu sekitar 2 menit,” ujar Wamildan.
Baca Juga
Garuda Indonesia (GIAA) Rombak Direksi dan Komisaris, Berikut Susunan Terbarunya
Ia menambahkan, meski penghematan waktu tidak signifikan, pengurangan konsumsi bahan bakar dapat berdampak positif terhadap efisiensi operasional maskapai, khususnya tiket pesawat.

