Sulap Uranium Jadi Tenaga Nuklir, ESDM Bakal Siapkan Aturannya
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan menyiapkan aturan untuk pemanfaatan uranium sebagai energi primer pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), menyusul ditemukannya potensi uranium di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 disebutkan, uranium di Kabupaten Melawi menurut Atlas Geologi Sumber Daya Mineral dan Energi Kalimantan Barat tersedia sekitar sebesar ± 24.112 ton.
Kendati demikian, pemanfaatan nuklir sebagai energi primer masih menunggu adanya kebijakan dari pemerintah yang didukung studi kelayakan pembangunan PLTN.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyampaikan, untuk pembangunan PLTN di wilayah usaha radioaktif, saat ini sedang ditata perizinannya. Dia menekankan bahwa untuk yang berasal dari wilayah usaha pertambangan, itu memang agak ketat.
Baca Juga
Prabowo ke Rusia Bukan Bahas Nuklir, PLTN Indonesia Masih Tunggu Sinyal Perpres
“Itu harus ada tim bersama, ada dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), kemudian ada dari Bapeten (Badan Pengawas Tenaga Nuklir), itu juga ada dari Kementerian ESDM. Jadi kita juga memperhatikan dari aspek lingkungan,” ujar Yuliot saat ditemui di Sekretariat Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (20/6/2025).
Lebih lanjut Yuliot menyebutkan, yang juga mau ditata lagi adalah soal pengembangan PLTN yang berasal dari pemurnian pengolahan. Saat ini, aturan mengenai pemurnian pengolahan itu tercantum di dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 2025 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara.
“Ini kita lagi siapkan Peraturan Pemerintah (PP)-nya. Mudah-mudahan itu dari PP-nya itu bisa diimplementasikan untuk pemurnian pengolahan bahan radioaktif itu bisa dimamaanfatkan untuk energi,” ucap Yuliot.
Di dalam RUPTL 2025-2034, direncanakan pembangunan PLTN dengan kapasitas sebesar 0,5 gigawatt (GW). Dari porsi tersebut, 250 megawatt (MW) akan dibangun di Kalimantan, dan 250 MW dibangun di Sumatera.

