Tanggapi Ancaman China, RI Tetap Lanjutkan Negosiasi dan Perdagangan dengan Negara Mitra
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perdagangan (Kemendag) memberikan tanggapan terkait ancaman dari pemerintah China terhadap negara-negara yang melakukan negosiasi dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai kenaikan tarif impor. Pihak Kementerian Perdagangan RI menyampaikan bahwa Indonesia akan tetap menjalankan aktivitas perdagangan dengan negara mitra seperti biasa.
"Kita tetap melakukan kegiatan perdagangan dengan mitra-mitra kita yang lain sebagaimana biasa kita lakukan," ucap Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Djatmiko Bris Witjaksono saat konferensi pers, Senin (21/4/2025).
Sebagaimana diberitakan, Indonesia memutuskan untuk mengedepankan negosiasi dengan pihak AS terkait tarif resiprokal terhadap produk-produk Indonesia dengan pajak impor sebesar 32%.
Baca Juga
Perang Tarif Masih Panas, China Peringatkan Negara-negara Pencari Konsesi dari AS
Disampaikan Djatmiko, Indonesia telah memutuskan untuk tidak melakukan tindakan balasan dengan pihak Amerika Serikat. Kendati demikian, di satu sisi, pemerintah juga menghargai setiap keputusan yang diambil oleh China terkait perdagangannya.
"Terkait dengan pemerintah RRC, saya rasa Indonesia dan RRC juga sama-sama menjunjung tinggi, prinsip perdagangan multilateral, kita saling menghormati hak dan kewajiban kita masing-masing," terangnya.
Lebih lanjut, Djatmiko kembali menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tetap akan menjalin hubungan yang baik dengan seluruh negara-negara mitra dagangnya. Apabila terdapat kendala, Indonesia memilih untuk mendiskusikannya melalui jalur diplomasi atau negosiasi.
"Yang pasti pemerintah Indonesia akan tetap memastikan bahwa kegiatan perdagangan dengan mitra-mitra utama kita itu tetap berjalan dengan sebaik mungkin. Kalaupun ada isu di lapangan, selalu akan kita selesaikan di forum diplomasi dan negosiasi perdagangan," papar Djatmiko.
Pada hari ini , Senin (21/4/2025), pemerintah China memperingatkan akan membalas negara-negara yang bekerja sama dengan AS untuk mengisolasi dan merugikan kepentingan Beijing. Perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia ini terancam makin meluas dan melibatkan negara-negara lain.
Peringatan dari China ini muncul ketika pemerintahan Presiden AS Donald Trump dilaporkan berencana menggunakan negosiasi tarif untuk menekan mitra-mitra AS agar membatasi hubungan mereka dengan China. Trump bulan ini menghentikan kenaikan tarif besar terhadap negara lain selama 90 hari, sambil menaikkan tarif lebih lanjut terhadap barang-barang dari China hingga 145%.
"China dengan tegas menentang pihak mana pun yang mencapai kesepakatan dengan mengorbankan kepentingan China. Jika ini terjadi, China tidak akan menerimanya dan akan dengan tegas mengambil tindakan balasan yang setara,” bunyi pernyataan Kementerian Perdagangan China, seperti dikutip CNBC, Senin (21/4/2025).

