Setelah Cetak Rekor Tembus US$ 3.100, Harga Emas Tergerus di Bawah US$ 3.000
SINGAPURA, Investortrust.id - Harga emas global hari ini Senin (7/4/2025) anjlok di bawah level US$ 3.000 per ons setelah mencapai rekor tertinggi melewati level US$ 3.100 minggu lalu.
Harga emas diperdagangkan pada harga US$ 2.981,69 per ons pada pukul 09.07 pagi waktu Singapura, karena investor menjual logam mulia untuk menutupi kerugian mereka dari kemerosotan pasar saham.
Baca Juga
Harga Emas Antam, UBS, dan Galeri24 di Pegadaian Stabil di Awal Pekan Ini
“Kami melihat emas sebagai aset likuid yang digunakan untuk memenuhi margin call di aset lain (saham), jadi bukan hal yang aneh jika emas dijual setelah peristiwa berisiko mengingat perannya dalam portofolio,” kata analis Standard Chartered Suki Cooper dilansir CNBC.
Sementara bursa saham Asia Pasifik longsor memperpanjang aksi jualnya pada Senin (7/4/2025) karena kekhawatiran perang dagang global yang dipicu tarif impor Presiden AS Donald Trump.
Dilansir dari CNBC, bursa saham Hong Kong memimpin penurunan di kawasan tersebut, dengan Indeks Hang Seng turun 10,21% pada pukul 09.52 waktu setempat pada Senin. Sementara itu, Indeks Teknologi Hang Seng Hong Kong anjlok 12,11%.
Sedangkan indeks CSI 300 di Tiongkok daratan turun 4,82%. Adapun indeks acuan Taiex Taiwan anjlok 9,62% menjadi 19.249,82 pada pukul 09.37 waktu setempat, level terendah sejak Maret 2024.
Di Jepang, indeks acuan Nikkei 225 turun 6,38% hingga menyentuh level terendah dalam 18 bulan. Sementara indeks Topix anjlok 6,52%.
Di Korea Selatan, indeks Kospi turun 4,32%, sementara indeks berkapitalisasi kecil Kosdaq turun 3,52%.
Baca Juga
Harga Emas Antam Babak Belur karena Hal Ini, 2 Hari Turun Rp 55.000
Adapun S&P/ASX 200 Australia anjlok ke levell terendah dalam lebih 18 bulan. Indeks acuan anjlok 6,46% pada pukul 10.50 waktu standar timur Australia menjadi 7.170,60, level terendah sejak Oktober 2023.
Bursa saham AS jatuh 2 hari berturut-turut pada pekan lalu. Di Wall Street, indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing turun 5% pada Jumat waktu AS, setelah Tiongkok mengumumkan tarif tambahan sebesar 34% pada semua barang AS mulai 10 April. Langkah Negeri Tirai Bambu itu merespons tarif timbal balik yang diumumkan Presiden AS Donald Trump minggu ini.
Namun, emas masih naik sekitar 15,3% sepanjang tahun ini, didorong kuatnya pembelian bank sentral dan daya tariknya sebagai lindung nilai yang aman terhadap ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

