Ketum Kadin Anindya Yakin Pemerintah Permudah Pengusaha India Investasi di Sektor Kesehatan
JAKARTA, Investortrust.id – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie meyakini, pemerintah akan membuat peraturan yang mendukung investasi India di bidang kesehatan.
Hal itu diungkapkan Anindya menanggapi pengusaha India di sektor kesehatan yang keberatan karena Indonesia mempunyai kebijakan harus menggunakan dokter sendiri. Sementara investor India ingin memakai dokter dari negaranya.
"Ya saya rasa itu suatu masukan dan komplain yang wajar," kata Anindya dalam press statement di kantor Kedutaan Besar RI di New Delhi, India, Senin (27/1/2025)
Baca Juga
Kadin Targetkan Nilai Perdagangan RI-India Tembus US$ 120 Miliar, Surplus untuk Indonesia
Anindya meyakini pemerintah akan melakukan semacam deregulasi untuk membuat lebih mudah berinvestasi di Indonesia. "Saya yakin Kementerian Investasi dan Hilirisasi juga menyadari itu semua," kata dia.
Apalagi, kata Anindya, India dikenal sebagai negara pengekspor obat generik paling besar di dunia.
Anindya mengungkapkan, Presiden Prabowo Subianto sudah mulai bicara soal hambatan tersebut. "Bahkan saya dengar juga, pimpinan kita sudah mulai bicara untuk membawa bukan 1.000, bukan 2.000, bahkan puluhan ribu dokter ke Indonesia," kata Anindya.
Permudah investasi
Soal masukan Kadin India yang menyatakan perizinan usaha di Indonesia masih banyak pintu, Anindya Bakrie mengungkapkan, Indonesia sudah menerapkan perizinan satu pintu (online single submission). "Memang dengan online single submission, itu merupakan salah satu yang diupayakan," kata dia.
Selain itu, pemerintah sudah menerapkan Omnibus Law meski masih menemui tantangan. "Pasti setiap negara ingin lebih mudah, ease of doing business," kata dia.
Baca Juga
Ketum Kadin Anindya: India – Indonesia Sepakat Tumbuhkan Kepercayaan di Tengah Tren Proteksionisme
Dia mengakui, masih ada investasi yang membutuhkan banyak perizinan dan perpajakan. "Nah ini saya rasa adalah gabungan keinginan untuk cepat bekerja sama (Indonesia-India), bisa dibilang growing pain," kata dia.
Saat ini, kata dia, India dan Indonesia adalah dua negara di dunia dengan pertumbuhan ekonomi di atas 5%. "China mungkin tipis-tipis 5%. Jadi ya bisa dibayangkan bagaimana bisa growing di negara sendiri saja juga tidak gampang. Mau ke tempat lainnya juga growing. Saya rasa itu bagian growing pain tanda kutipnya," kata dia.
Sebagai gambaran, growing pain dalam investasi adalah istilah yang merujuk pada masalah yang muncul saat perusahaan sedang memperluas atau memulai bisnisnya.

