Menko Pangan Minta Warga Desa Tanam Kelapa, Ini Alasannya
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan meminta kepala desa (kades) di seluruh Indonesia untuk mendorong para petani di desanya menanam tanaman perkebunan rakyat, khususnya kelapa.
Pria yang akrab disapa Zulhas itu mengatakan tanaman perkebunan rakyat seperti cokelat, kopi, dan kelapa punya Nilai Tukar Petani (NTP) yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman hortikultura.
"Tanaman hortikultura nilai tukarnya (NTP) 108 hampir 109. Tapi ini ada yang menarik. Tanaman perkebunan rakyat, itu nilainya 156," katanya dalam acara Gerakan Nasional Pangan Merah Putih yang digelar di Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta Selatan, Rabu (6/11/2024).
Menurut Zulhas, upaya tersebut perlu dilakukan untuk mewujudkan swasembada pangan yang ditargetkan oleh Presiden Prabowo Subianto tercapai empat tahun mendatang. Sebab, untuk mewujudkan swasembada pangan bukan hanya dengan swasembada beras yang menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia.
"Beras wajib. Tetapi kita akan mengembangkan juga tanaman kelapa, karena ini nilainya tinggi sekali, jangan dianggap enteng," ujarnya.
Pria yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Perdagangan (Mendag) itu menjelaskan kelapa menjadi salah satu komoditas ekspor dengan nilai yang terbilang besar. Pada 2023, nilai ekspor kelapa mencapai US$ 2 miliar seiring dengan meningkatnya konsumsi susu nabati.
Zulhas juga meminta para petani untuk menanam kelapa yang dapat berbuah cepat, tidak perlu menunggu sampai menjulang tinggi hingga belasan meter.
"Kelapa tahun lalu kita ekspor US$ 2 miliar. Karena, sekarang Eropa minum susu bukan dari hewan. Minum susu sebagian besar dari kelapa. Jadi kelapa akan laku sekali," tegasnya.
Tak hanya kelapa, Zulhas juga meminta kades untuk mendorong warganya menanam kopi karena nilai tukarnya yang mencapai angka 153. Kemudian juga cokelat yang menurutnya masih banyak diimpor untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.
"Jadi kalau Bapak punya 1 hektare tanaman kopi, sudah bisa beli mobil itu setahun. Bisa menyekolahkan anak-anak ke Jawa. 2 tahun, 3 tahun bisa pergi Umroh. Karena nilai tukarnya tinggi sekali," pungkasnya.

