Mengandung Bakteri Berbahaya, BPOM Musnahkan 77.219 Jajanan Latiao Asal China
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeklaim telah memusnahkan 77.219 kudapan asal China latiao yang menyebabkan keracunan massal di tujuh wilayah di Indonesia.
Sebagai catatan, latiao adalah camilan berbentuk stik dengan tekstur elastis asal China. Camilan yang terbuat dari tepung terigu ini bercitarasa gurih dan pedas.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan, latiao yang sudah dimusnahkan didapatkan dari 341 titik yang tersebar di sejumlah wilayah di Tanah Air. Adapun, titik-titik tersebut meliputi 214 toko, 27 distributor, 100 kantin warung di area sekolah.
Baca Juga
Usai Bapanas, BPOM Berikan Pernyataan Anggur Shine Muscat Aman Dikonsumsi
"Dari 77.219 pieces latiao tadi atau 95 item varian telah disampling sejumlah 750 pieces diturunkan dari rak display, diamankan sementara sejumlah 76.420 pieces, dan sejumlah 49 pieces tadi dimusnahkan karena kedaluwarsa atau tanpa izin edar," katanya ketika ditemui oleh awak media di kantor Badan Pangan Nasional (Bapanas), Jakarta Selatan, Senin (4/11/2024).
Lebih lanjut, Taruna mengatakan bahwa latiao ditarik dari peredaran lantaran mengandung bakteri berbahaya Bacillus cereus. Bakteri yang memproduksi racu n berbahata emetik dan enterotoksin itu menyebabkan keracunan berupa sakit perut, pusing, mual, dan muntah.
Diketahui latiao yang mengandung bakteri tersebut menyebabkan terjadinya keracunan massal atau kejadian luar biasa keracunan pangan (KLB KP) di Lampung, Sukabumi, Wonosobo, Tangerang Selatan, Bandung Barat, Pamekasan, dan Riau.
Baca Juga
Bapanas Pastikan Anggur Shine Muscat yang Beredar di Indonesia Aman
Taruna menjelaskan saat ini terdapat 73 merek produk latiao yang terdaftar atau mengantongi izin edar dari BPOM. Sebanyak empat di antaranya, yakni Luvmi Hot Spicy Latiao, C&J Candy Joy Latiao, KK Boy Latiao, dan Lianggui Latiao sudah dipastikan mengandung bakteri Bacillus cereus.
“Jadi kalau dari apa yang kami temukan ini sebaiknya tidak usah dulu dimakan, dibuang saja daripada sakit. Dari empat produk yang kami temukan di lapangan, boleh jadi berkembang ke depan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Taruna menyatakan latiao sudah masuk dalam kategori pangan siap saji berisiko tinggi. Sebab, latiao
memiliki ketahanan rendah yang terhadap suhu maupun waktu simpan yang singkat.
Baca Juga
Pemerintah Resmi Perpanjang Tax Holiday Hingga Desember 2025
Namun, di sisi lain proses distribusi latiao terbilang panjang karena diimpor dari Negeri Tirai Bambu dan berpotensi memunculkan mikroorganisme berbahaya karena panjangnya proses tersebut.
"Latiao ini awalnya kita anggap low risk, ternyata high risk, karena dia high risk kami mengambil langkah tegas dan cepat," tegasnya.
Menurut Taruna, selain Bacillus cereus, latiao berpotensi memunculkan mikroorganisme lainnya yang tak kalah berbahaya seperti bakteri salmonella dan jamur.

