Inginkan BMAD Produk Keramik Capai 100%, Asaki Tetap Apresiasi Pemerintahan Jokowi
JAKARTA, Investortrust.id – Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) sangat mengapresiasi kehadiran dan keberpihakan Pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam melindungi industri keramik nasional dari tindakan kecurangan perdagangan berupa dumping dari keramik impor asal China melalui PMK BMAD no.70 thn 2024 yg akan mulai berlaku tgl 24 Oktober 2024 selama 5 tahun ke depan.
Disampaikan Ketua Umum Asaki Edy Suyanto, pihaknya tetap memandang positif meskipun besaran BMAD (Bea Masuk Anti Dumping) yang ditetapkan hanya berkisar 35% hingga 50% yang menurut Edy sejatinya masih di bawah harapan Asaki.
“Asaki berharap Bea Masuk Anti Dumping bisa menyerupai negara-negara lain seperti Meksiko dan Amerika Serikat dengan besaran di atas 100%, kehadiran BMAD ini akan menjadi awal kebangkitan kembali bagi industri keramik nasional yang telah cidera berat selama hampir 10 tahun terakhir akibat praktek dumping dan telah mengakibatkan sejumlah pabrik berhenti produksi,” kata Edy dalam pernyataan tertulis yang diterima Jumat (18/10/2024).
Edy juga menyampaikan, akibat langkah dumping dari China, tingkat utilisasi produksi nasional mengalami penurunan. “Asaki tentu mengharapkan perpanjangan Bea Masuk Tindakan Pengamanan atau Safeguard juga bisa tepat waktu di bulan November mendatang, karena sangat dibutuhkan untuk melengkapi persentase BMAD yang kurang maksimal,” imbuhnya.
Baca Juga
Asaki berharap, pascapenerapan BMAD Keramik atas impor keramik asal China dan dukungan Permenperin no.36 thn 2024 tentang SNI Wajib akan segera memulihkan tingkat utilisasi produksi keramik nasional yang saat ini berada di level 63%.
Penerapan BMAD diproyeksikan tingkat utilisasi bisa beranjak naik ke level 67-68% di akhir thn 2024, dan Asaki sendiri memasang target tingkat utilisasi produksi nasional tahun 2025 bisa berada di level 80% dan tahun 2026 kembali meningkat di level 90%.
“Seperti kita ketahui secara Kapasitas Produksi Terpasang industri Keramik Nasional berada di posisi nomor 4 besar produsen keramik dunia, sebesar 675jt m2/tahun di bawah China, India dan Brazil. Namun secara kapasitas produksi aktual, kita msh tertinggal, berada di urutan 8 besar Dunia. Asaki menargetkan tahun 2025 bisa masuk sebagai Top 5 Manufacturing Countries versi Ceramic World Review,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama Edy juga menyampaikan harapannya Indonesia bisa menjadi tuan rumah yang baik di negeri sendiri, dan optimistis bisa mendukung Program Pemerintahan Baru Prabowo-Gibran di dalam pembangunan rumah rakyat 3 juta unit per tahun yang tentunya membutuhkan produk-produk bahan bangunan seperti ubin keramik, genteng keramik dan sanitary ware yang produsennya tergabung di dalam Asaki.
Masih menurut Edy, kehadiran BMAD, kebijakan SNI Wajib dan BMTP juga diyakini akan menarik investasi baru baik dari domestik maupun luar negeri terutama investor dari China. “Asaki siap menyambut kehadiran pemain baru yang akan menanamkan modalnya di Indonesia dan menciptakan lapangan kerja baru. Mari kita bersaing secara Fair, kita adu efisiensi dan inovasi! Saya yakin kita pemain lokal tidak akan kalah bersaing!" kata Edy.
Edy juga berpandangan kesempatan untuk ekspansi bagi para pelaku usaha industri keramik masih terbuka, dengan tingkat komsumsi keramik per kapita Indonesia masih di bawah rata-rata komsumsi keramik dunia per kapita yg berada di level 2,5 m2/kepala. Bandingkan dengan rata-rata konsumsi keramik per kapita di Malaysia dan Thailand yang sudah di atas 3m2, bahkan Vietnam dan China sudah di atas 5m2/kapita.

