Target Kredit 30% Perbankan ke UMKM Meleset, Ini Penyebabnya
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah memberikan sinyal terkait target porsi penyaluran kredit sebesar 30% bagi sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) akan sulit tercapai di era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Menurut Plt Deputi Bidang UKM Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) Temmy Satya Permana, melesetnya target kredit 30% imbas dari sejumlah faktor.
Dari sekian banyak faktor tersebut, ia menyebut melemahnya ekspansi bisnis dari para pelaku UMKM merupakan salah satunya.
"Pasar memang lagi melemah sekarang, ekspansi kredit bisa betul-betul dilaksanakan kalau pasar bergairah, suplai banyak. (Ketika) suplainya siap, tapi pasarnya enggak siap terima, demand-nya berkurang," jelas dia dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (3/10/2024).
Baca Juga
Rumah BUMN Telkom Gelar Program Nutrition Fact, Diikuti 352 UMKM Binaan di Tahun 2024
Dia mengatakan per tahun 2023 lalu porsi penyaluran kredit UMKM oleh perbankan hanya sebesar 19,6%. Oleh karena itu, dia menyebut saat ini terdapat sejumlah pekerjaan rumah (PR) yang mestinya dapat ditangani oleh pemerintah. Di antaranya adalah terkait pengenaan suku bunga rata-rata untuk kredit non KUR yang dinilai masih relatif tinggi, yakni di atas 10%.
Sementara dari 19,6% porsi kredit UMKM oleh perbankan, kata Temmy, mayoritas diperuntukkan untuk kelompok kredit kecil menengah dengan 53,79%. Dengan demikian, dia menyebut dari total Rp 1.364 triliun angka kredit terhadap UMKM, 50% lebih adalah kredit skala kecil dan menengah. Sehingga menurut dia, tidak ada insentif khusus dari pemerintah terhadap kelompok pelaku usaha skala kecil dan menengah.
"Kalau mikro, itu ada KUR, PNM dan lain-lain. Sementara kecil dan menengah yang di atas Rp 500 juta itu diserahkan kepada rata-rata industri, kepada suku bunga perbankan normal," sambung dia.
Baca Juga
Perputaran Ekonomi MotoGP Mandalika Ditaksir Rp 4,8 Triliun, UMKM Lokal Cuan Besar
Lebih lanjut ia menyebut saat ini pelaku UMKM skala kecil dan menengah cukup terbebani akibat suku bunga kredit yang tinggi. Jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan regional, menurutnya suku bunga domestik lebih memberatkan. Dia mencontohkan pada tahun 2021 lalu saat suku bunga bagi kredit kecil dan menengah di Indonesia mencapai 8,59%, negara Singapura memiliki angka yang lebih rendah yaitu 5,42% dan bahkan Malaysia hanya 3,45%.
"Mudah-mudahan sih di akhir triwulan tiga ini ada perbaikan yang signifikan ya terhadap kondisi perekonomian kita. Karena biasanya menjelang pelantikan (kabinet Prabowo Subianto) ini pasar masih wait and see," tandas dia.

