Apa Kabar SWF? (Resensi Buku "Fenomena Sovereign Wealth Funds")
Judul: Fenomena Sovereign Wealth Funds.
Penulis: U Saefudin Noer.
Penerbit: Penerbit Buku Kompas/PT Kompas Media Nusantara.
Tahun Terbit: 2023.
Tebal Halaman: 480 hlm.
Ukuran Buku: 21 cm x 26 cm.
ISBN: 978-623-160-069-1.
Peresensi: Abdul Aziz (wartawan investortrust.id).
INVESTORTRUST.ID - Masih ingat Lembaga Pengelola Investasi (LPI) alias Indonesia Investment Authority (INA)? Saat dibentuk lima tahun silam, lembaga pengelola sovereign wealth fund (SWF) itu digadang-gadang menjadi “dewa penyelamat” perekonomian Indonesia.
Maklum, LPI/INA hadir saat perekonomian nasional diharu biru pandemi Covid-19. Pemerintah mendirikan LPI/INA pada Desember 2020 dan mengoperasikannya secara resmi mulai Februari 2021. LPI/INA dibentuk dengan modal awal Rp 15 triliun dari APBN 2020, sisanya sebesar Rp 60 triliun diambil dari APBN 2021.
Masyarakat begitu berharap pada “kesaktian” LPI/INA. Itu karena LPIA/INA bakal menghimpun dan mengelola dana ratusan triliun rupiah. Dana-dana jumbo tersebut berasal dari para investor global yang diinvestasikan di berbagai proyek unggulan di Tanah Air, terutama proyek-proyek infrastruktur.
Baca Juga
Ditopang Saham Teknologi, SWF Terbesar Dunia Catat Keuntungan $213 Miliar pada 2023
Sederhananya, jika dana-dana asing masuk dan proyek-proyek itu bergulir, perekonomian nasional bakal menggeliat. Lapangan kerja akan terbuka luas. Angka pengangguran dan kemiskinan turun signifikan. Penerimaan negara bertambah. Cadangan devisa meningkat. Nilai tukar rupiah bakal lebih perkasa.
LPI/INA dibentuk lewat Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 73 Tahun 2020 tentang LPI. Lembaga yang bertanggung kapada presiden ini diberi kewenangan khusus (sui generis) untuk mengelola investasi pemerintah pusat sebagaimana diamanatkan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja.
Namun, entah kenapa, LPI/INA kini nyaris tak terdengar kabarnya. Pemberitaan LPI/INA yang awalnya nyaring, kini terdengar sayup-sayup lembut. Padahal, sebagai SWF, LPI/INA juga sudah menggandeng SWF dari negara-negara lain. Sejumlah investor global pun dikabarkan telah membenamkan dananya di sejumlah proyek infrastruktur di Tanah Air.
Buku Fenomena SWF
Buku Fenomena Sovereign Wealth Funds karya U Saefudin Noer menyegarkan kembali ingatan masyarakat tentang LPI/INA. Dengan membaca buku ini, masyarakat juga mendapat informasi yang komplit dan gamblang perihal SWF.
Saefudin Noer begitu fasih membahas SWF, dari mulai sejarah pembentukannya, teori tentang SWF, manfaat SWF, bagaimana SWF bekerja, hingga keberadaannya yang memicu kontroversi di seluruh dunia dan menorehkan kekhawatiran bahwa SWF adalah “kendaraan politik” yang digunakan negara-negara di luar blok AS dan Eropa, untuk menguasai negara-negara maju.
Pengetahuan Saefudin Noer tentang SWF yang begitu detail sebetulnya tidak terlalu mengherankan jika menilik rekam jejak dan bidang-bidang yang pernah digelutinya. Safeudin pernah menyandang berbagai jabatan mentereng di BUMN, di antaranya sebagai Direktur Keuangan dan Direktur Utama Pelindo III, serta Direktur Utama Perum Jasa Tirta II.
Di perusahaan swasta, Saefudin Noer pernah menduduki posisi elite sebagai Deputy Regional Director GIBD CIMB Group-Malaysia, SVP-Head of Syariah Banking & Head of Government Relations CIMB Niaga, Direktur Bank Muamalat Indonesia, serta Eksekutif Senior di Bank Syariah Mandiri dan Bank Duta.
Ia juga pernah menjabat sebagai Komisaris Utama/Komisaris di sejumlah industri pelabuhan, marine services, rumah sakit, properti, teknologi informasi dan komunikasi (TIK), serta senior committee member dan advisor pengembangan kawasan ekonomi, industri, dan pariwisata terpadu.
Saefudin Noer bahkan pernah menyabet penghargaan sebagai The Best CFO, The Best Performing CEO, The Best CEO Revolusi Mental, dan sejumlah penghargaan lainnya.
Dicurigai dan Didamba
Hingga kini belum ada definisi baku tentang SWF. Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), SWF adalah dana investasi milik negara yang disiapkan untuk berbagai kepentingan makroekonomi.
SWF lazimnya dibentuk dari pengalihan aset-aset valas yang dipisahkan dari cadangan resmi untuk diinvestasikan, biasanya di luar negeri, pada beragam kelas aset yang memberikan keuntungan lebih tinggi. SWF berbeda dengan dana pensiun publik. Juga berbeda dengan BUMN yang fungsi utamanya menyediakan barang dan jasa. (Hal 40-41)
SWF berperan vital dalam industri keuangan global. Per Desember 2019 saja, berdasarkan estimasi IMF, dana kelolaan SWF di seluruh dunia mencapai US$ 8 triliun, melonjak dibanding US$ 3 triliun per September 2007. Itu pun baru sebatas yang terdata dalam Top 88 Largest Sovereign Wealth Fund Rankings by Total Assets. (Hal 38)
Konsep SWF dikenal sejak awal 1950-an ketika Kuwait Investment Board didirikan pada 1953 oleh pemerintah Kuwait. Gelombang pertama SWF muncul pada 1970-an sebagai dampak oil shock Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Alkisah, pada 1974, berdirilah Temasek Holdings Singapura dan Mineral Resources Stabilization Fund Papua Nugini. Pada 1976, didirikan pula Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) dan Aberta Heritage Fund Kanada. Pemerintah Norwegia kemudian mendirikan Norway’s Government Petroleum Fund pada 1986.
Gelombang kedua SWF hadir pada akhir 1990-an, diawali berdirinya Hong Kong Monetary Authority Investment dan Portfolio and Venezuela’s Investment Fund for Macroeconomic Stabilization. Pada tahun 2000, jumlah SWF melonjak dua kali lipat dari 20 menjadi 43 government owned investment funds. (Hal 70-89)
Kehadiran SWF membuat heboh jagat finansial. Apalagi setelah SWF menjadi penyelamat saat industri keuangan AS runtuh gara-gara kasus kredit aset properti berkualitas rendah (subprime mortgage) pada 2008-2009.
Saat itu, pemerintah Singapura, Kuwait, dan Korea Selatan melalui otoritas dana masing-masing menggelontorkan tak kurang dari US$ 21 miliar kepada bank investasi Citigroup dan Merrill Lynch yang sedang berdarah-darah. SWF disebut-sebut telah mempertaruhkan sekitar US$ 69 miliar untuk merekapitalisasi bank-bank investasi terbesar di AS dan negara-negara kaya lainnya di seluruh dunia. (Hal 167)
Baca Juga
Ada Perusahaan Qatar Investasi di Program Makan Bergizi Prabowo, Siapa?
Kehadiran SWF memang mencengangkan. Kuwait Investment Authority telah menjadi pemegang saham yang stabil dan penting di perusahaan Jerman, Daimler, sejak 1969 dan bank Inggris, BP, sejak 1986. Pada awal 2008, ADIA membelanjakan US$ 7,5 miliar untuk membeli 4,9% saham Citigroup.
China Investment Corporation (CIC) menginvestasikan US$ 5 miliar setara 9,9% kepemilikan saham di Morgan Stanley. Temasek Holdings (Singapura) juga membeli 9,4% saham Merrill Lynch seharga US$ 4,4 miliar. Pada Mei 2007, CIC membeli saham Blackstone Group, perusahaan ekuitas privat berbasis di AS, senilai US$ 3 miliar. (Hal 171)
SWF makin membetot perhatian dunia setelah beberapa SWF menempatkan miliaran dolar dananya untuk menyembuhkan bank-bank terbesar AS yang sekarat gara-gara kredit macet. (Hal 172)
Pada September 2007, Bourse Dubai SWF memborong 19,9% pasar saham Nasdaq dan 28% saham Nasdaq di London Stock Exchange. Pada Desember 2007, China Investment Corporation (CIC) membeli 9,9% dari Morgan Stanley senilai US$ 5 miliar.
Pada Januari 2008, Merrill Lynch menjual kelas saham khusus senilai US$ 6,6 miliar kepada SWF Korea Selatan dan Kuwait. Tak lama berselang, Citigroup mengumumkan penjualan 7,8% saham kepada sekelompok investor, termasuk Singapore Investment Corporation (SIC).
Meski menjadi “dewa penyelamat”, SWF dicurigai punya motif terselubung. SWF ditengarai memiliki agenda tersembunyi yang tidak sepenuhnya bermotif bisnis. Tak cuma menyimpan skenario konspirasi bisnis --seperti menghambat persaingan serta melindungi industri nasional yang menjadi unggulan dan andalan-- SWF juga dituduh terlibat konspirasi geopolitik dalam bentuk terorisme keuangan.
Intinya, SWF dianggap sebagai bentuk “kapitalisme negara baru” untuk mencapai efisiensi keuangan dan tujuan politik. (Hal 42 dan 169)
Layak Dibaca Semua Kalangan
Membaca buku Fenomena Sovereign Wealth Funds karya U Saefudin Noer seperti membaca buku fiksi, bukan buku ilmiah yang membuat kening berkerut-kerut. Pembaca dibuat penasaran sejak halaman pertama. Itu karena Saefudin menggunakan diksi-diksi yang tajam dan kuat, dengan gaya bertutur yang renyah, mudah dicerna, bahkan oleh pembaca yang awam ekonomi.
Alhasil, buku ini layak dibaca siapa pun, bukan hanya para akademisi, pemimpin perusahaan, ekonom, dan pejabat publik, tapi juga masyarakat umum.
Tentu saja tak ada gading yang tak retak. Kelemahan buku ini antara lain tidak menyajikan data-data terkini (up to date), melainkan data-data belasan tahun silam yang bisa jadi sudah kedaluwarsa seiring dengan berubahnya lanskap geopolitik dan ekonomi dunia.
Baca Juga
Rosan Roeslani Tancap Gas Kejar Target Investasi dalam 2 Bulan
Kekurangan lainnya, penulis sama sekali tidak membahas LPI/INA. Padahal, penulis menyiapkan buku ini jauh sebelum LPI/INA dibentuk, juga menerbitkannya setelah SWF versi Indonesia itu beroperasi. Artinya, penulis punya kesempatan untuk menganalisis dan menuangkan gagasan-gagasannya mengenai LPI/INA yang pamornya kini meredup.
Saefudin Noer hanya menyinggung sedikit soal SWF Indonesia, itu pun hanya berupa tulisan opininya yang pernah dimuat di harian Republika.
Sayangnya pula, topik yang disasar dalam tulisan itu pun hanya Pusat Investasi Pemerintah atau PIP (karena saat itu LPI/INA memang belum terbentuk). PIP, lembaga di bawah Kementerian Keuangan, dilikuidasi pada 2015 setelah hampir delapan tahun berdiri karena investasinya tidak berkembang.
Andai saja penulis juga mengupas LPI/INA, buku Fenomena Sovereign Wealth Funds bisa menjadi buku yang benar-benar fenomenal, terutama karena bangsa ini akan segera memiliki pemerintahan baru yang menargetkan pertumbuhan ekonomi sangat ambisius, hingga 8%.***

