Pembangunan Jembatan Palu IV Sulteng Ditargetkan Rampung Desember 2024
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan, penyelesaian pembangunan Jembatan Palu IV yang rusak dihantam tsunami Sulawesi Tengah (Sulteng) pada tahun 2018 akan rampung pada Desember 2024 atau akhir tahun ini.
Mengutip unggahan Instagram Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga Kementerian PUPR, jembatan yang memiliki panjang total 250 meter ini akan terkoneksi dengan jalan elevated sebagai bagian dari sistem mitigasi bencana tsunami.
“Hingga 8 Agustus 2024, progres fisiknya mencapai 62,83% dan direncanakan selesai pada Desember 2024,” tulis akun @pupr_binamarga, diakses Rabu (21/8/2024).
Adapun pembangunan jalan elevated tersebut dikerjakan dalam dua paket di antaranya rekonstruksi dan rehabilitasi ruas jalan dalam Kota Palu serta Penanganan Tanggul Jalan Rajamoili - Cut Mutia sepanjang 16,25 kilometer (km) dan rekonstruksi serta Penanganan Tanggul Jalan Cumicumi (2,4 km).
Baca Juga
PUPR Bakal Sulap Wisma Atlet Kemayoran Jadi Rusun ASN, Berapa Anggarannya?
“Fondasi dan ketinggian Jembatan Palu IV didesain dengan mempertimbangkan nilai seismik gempa dan tsunami berdasarkan peta risiko gempa,” tulis akun @pupr_binamarga.
Perlu diketahui, pembangunan Jembatan Palu IV Sulteng yang biasa disebut Jembatan Ponulele atau Jembatan Kuning, dirancang tangguh bencana seperti gempa dan tsunami.
Pada Februari 2022, Kepala Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Bencana Kementerian PUPR Sulawesi Tengah, Arie Setiadi Moerwanto telah menjelaskan, Jembatan Palu IV akan berdiri dekat sesar Palu-Koro, sehingga bukan tidak mungkin akan terkena dampak bencana di kemudian hari.
Baca Juga
Kampung Nila SFV Desa Kawali Siap Suplai Bahan Pangan Program Makan Bergizi Gratis
Maka dari itu, lanjut Arie, konstruksi Jembatan Palu IV akan didesain untuk mampu menahan setidaknya dua potensi kebencanaan, yaitu tsunami dan likuifaksi tanah.
Lebih lanjut, ia menyampaikan, untuk mengantisipasi dampak dari tsunami, Jembatan Palu IV akan terkoneksi dengan jalan elevated yang mampu meredam energi gelombang pada saat tsunami.
Energi yang terpecah ini mampu mengurangi potensi kerusakan yang ditimbulkan ketika gelombang air laut menyeruak ke daratan.
“Jadi bukan menahan tsunami nya tetapi agar energi gelombangnya diperkecil,” kata Arie beberapa waktu lalu.

