InJourney Beberkan Strategi Dongkrak Transaksi dan Nilai Ekonomi Wisatawan
JAKARTA, investortrust.id - PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney berupaya berkontribusi mendorong kenaikan Travel and Tourism Development Index (TTDI) sekaligus share of wallet (SOW) atau belanja wisatawan saat berkunjung ke Indonesia.
Sebagai catatan, TTDI yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF) pada 21 Mei 2024 lalu menunjukan peringkat Indonesia melesat naik 10 peringkat, dari rangking 32 menjadi rangking ke-22 dunia tahun ini.
Posisi tadi menunjukan daya saing pariwisata Indonesia berada di atas negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan Vietnam. Tidak kalah menggembirakan adalah angka indeks modal manusia Indonesia, di mana saat ini kita berada di posisi terdepan se-Asia Tenggara.
Direktur Marketing and Consumer Experience InJourney, Maya Watono, mengakui angka-angka tersebut cukup baik, dan pihaknya masih terus berupaya memacu peningkatan daya saing pariwisata sekaligus share of wallet atau transaksi wisatawan di Indonesia.
Dikatakan, meski TTDI indeks modal Indonesia terus naik, namun dari sisi share of wallet, Indonesia masih bertengger di posisi kelima Asia Tenggara.
Baca Juga
Kembangkan 4 Destinasi Pilihan, Wamen Tiko: Ekosistem Pariwisata Mesin Pertumbuhan Baru Ekonomi
‘’TTDI kita naik, juga indeks modalnya, unfortunately when we convert that to travel, dan share of wallet, kita nomor paling bawah, kita nomor 5 di Southeast Asia,’’ urai Maya Watono di acara Media Gathering Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo, yang dihadiri oleh CEO BUMN dan pemimpin redaksi media massa nasional di Jakarta, Jumat (12/7/2024) malam.
InJourney telah melihat fakta rendahnya persentasi pengeluaran atau belanja wisatawan di Indonesia, baik asing maupun domestik sejak dua tahun lalu. Sejak itu kata Maya, pihaknya mulai mengubah fokus dan strategi yang dilakukan untuk memacu tingkat kunjungan dan belanja wisatawan.
‘’Selama ini mungkin fokus kita hanya pada promotion and branding, tapi tidak ada target secara tersegmentasi dengan tepat. Karena itu, saat ini kita fokus melakukan destination development,’’ ulas Maya.
Dia mencontohkan Jepang, saat wisatawan ke negeri Matahari Terbit tersebut yang dituju jelas yaitu; Tokyo, Kyoto, dan Osaka, di mana masing-masing daerah memiliki segmen yang khusus. ‘’Berkaca dari sana, saat ini kita sedang develop KEK Sanur, Borobudur, Danau Toba, Mandalika, Labuan Bajo dan lainnya," katanya.
Sejalan dengan upaya tadi, pihaknya berupaya membangun ekosistem pariwisata yang saling terintegrasi, mulai dari bandar udara, tourism development, destination management, retail, sampai hospitality dan hotel. “Semua kita develop, bahkan sumber daya manusianya kita training. Sehingga kita harap bisa membangun ekosistem pariwisata paling sempurna di masa datang,’’ beber Maya.
Baca Juga
Wamen BUMN: Profitabilitas Grup BUMN Gak Kalah dengan Temasek dan Berkshire Hathaway
Dampak Ekonomi
Upaya membangun ekosistem pariwisata dalam dua tahun terakhir dinilai Maya berhasil mendatangkan dampak ekonomi signifikan bagi masyarakat. Contohnya penyelenggaraan MotoGP di Mandalika, Lombok yang sudah dilaksanakan dua kali, dengan nilai ekonomi mencapai Rp 4,5 triliun untuk satu kali event.
Begitu pula dengan F! Power Boat yang digelar di Kawasan Danau Toba yang berhasil memberikan dampak ekonomi sebesar Rp 1,7 triliun. ’’Upaya meningkatkan share of wallet harus terus dilakukan selain travel tourism development index,’’ kata Maya.
Maya mengatakan, peningkatan kunjungan wisata harus didukung oleh ketersediaan dan kelancaran penerbangan. Diakui faktor ini menjadi tantangan terbesar, sebab seat capacity untuk penerbangan masih kecil, bahkan paling rendah di Asia Tenggara.
‘’Kalau bicara load capacity (kapasitas terjual dengan kapasitas tersedia) penerbangan kita berada di angka 78% atau tertinggi di Asia Tenggara, tapi tantangannya pada rendahnya seat capacity,’’ urainya.
Untuk itu konsentrasi InJourney salah satunya termasuk meningkatkan seat capacity penerbangan, seperti memperluas penerbangan langsung atau direct flight, terutama dari negara-negara potensial untuk wisatawan. Contohnya dari Bangkok ke Yogyakarta, agar memudahkan wisatawan mengunjungi Borobudur.
‘’Kita sedang melakukan re-zoning untuk 80 hektare kawasan Borobudur menjadi spiritual pilgrim tourism. Borobudur ini seperti Mekkah-nya ummat Buddha, karena Borobudur the biggest temple in the world, and the biggest Buddhist temple in the world,’’ kata mantan CEO Dentsu Indonesia tersebut.
Untuk itu kata Maya, langkah membuka konektivitas ke Borobudur terutama dari Thailand dan Asia Tenggara sangat penting, dengan potensi 300 juta turis. ‘’Kita tahu umat Buddha mencapai 43% dari total penduduk Asia, ini potensi yang sangat besar,’’ pungkasnya.

