Pertamina Siap Akuisisi Lagi Ladang Migas di Irak
JAKARTA, investortrust.id – PT Pertamina (Persero) akan terus mengoptimalkan ladang minyak dan gas (migas) di Irak melalui anak usahanya, PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP). Bahkan, Pertamina siap mengakuisisi lagi blok migas di Negeri 1.001 Malam itu.
“Ada potensi kami menambah lagi sedikit blok (migas) di sana, sehingga penting bagi kami untuk meyakinkan mereka. Kami terus membangun komunikasi yang baik dengan pemerintah Irak,” kata Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati kepada para pimpinan media massa di atas cruise dalam perjalanan dari Benoa menuju Nusa Penida dan Nusa Lembongan, Bali, Sabtu (22/6/2024).
Berdasarkan catatan investortrust.id, Pertamina tahun lalu mengakuisisi 10% participating interest (PI) atau hak dan kewajiban sebagai kontraktor kontrak kerja sama (K3S) pada suatu wilayah kerja, milik ExxonMobil Iraq Limited. Aset kelolaan seluas 687 km2 dengan nama Lapangan West Qurma-1 (WQ-1) itu terletak 50 km arah barat laut Kota Basra, Irak.
Lewat akuisisi tersebut, anak usaha PIEP, PT Pertamina Irak Eksplorasi Produksi (Pirep), berhak atas kepemilikan dengan sistem technical service contract (TSC). Pertamina berperan sebagai penyedia jasa proses eksplorasi, pengembangan, dan produksi di West Qurma-1 yang merupakan salah satu lapangan minyak terbesar di dunia dengan perkiraan cadangan yang dapat dihasilkan sebanyak 22 billion barrels of oil (BBO).
Baca Juga
Pertamina Raih Peringkat Tiga Perusahaan Terbesar versi Fortune 500 Asia Tenggara
PIEP didirikan pada 18 November 2013 sebagai perusahaan yang menjalankan bisnis minyak, gas alam, dan energi lainnya dengan area kerja internasional. PIEP memiliki 12 wilayah kerja yang tersebar di tiga region utama, yaitu Afrika, Asia, dan Timur Tengah, serta beberapa aset eksplorasi di region lain. Wilayah kerja PIEP meliputi Irak, Aljazair, Malaysia, Kolombia, Prancis, Gabon, Italia, Namibia, Nigeria, Tanzania, Angola, dan Venezuela.
Pekerjaan Besar di Irak
Nicke Widyawati mengungkapkan, cadangan minyak di Irak masih sangat besar. Irak tercatat sebagai negara produsen minyak nomor 5 terbesar di dunia atau terbanyak setelah Amerika Serikat (AS), Arab Saudi, Rusia, dan Kanada.
“Saat ini mereka memproduksi minyak 4,7 juta barel per hari (bph). Itu tidak dari blok yang banyak, karena satu blok ada yang menghasilkan 1,5 juta bph. Potensi Irak sangat-sangat besar,” tutur dia.
Alhasil, menurut Nicke, Pertamina bakal punya pekerjaan besar di negara yang berbatasan dengan Kuwait, Arab Saudi, Yordania, Turkiye, dan Iran tersebut. Jika rencana ekspansi itu gol, akan banyak sumber daya Pertamina yang dikerahkan ke Irak. Bukan hanya PIEP dan Pertamina Irak, tapi juga anak dan cucu perusahaan Pertamina lainnya.
“Jadi, kami bisa bawa anak usaha lain, bisa bawa PDSI (Pertamina Drilling Services Indonesia), Pertamina Pedeve Indonesia, dan lain-lain untuk menggarap pekerjaan di sana. Bukan hanya sebagai pemilik dan sebagai operator, servisnya pun bisa kamikerjakan,” papar dia.
Nicke Widyawati menambahkan, Pertamina juga akan terus meningkatkan kegiatan usaha perdagangan (trading) migas, termasuk memperkuat armada kapal angkut guna mendukung bisnis tersebut.
”Kami memberikan one stop solution, dan mereka sangat tertarik. Mereka ingin belajar bagaimana mengelola migas secara terintegrasi,” ujar dia.
Data Pertamina menunjukkan, produksi PIEP tahun lalu mencapai 109% dari target berkat kontribusi dari Irak serta aset lainnya di Gabon dan Angola. Sedangkanproduksi gas mencapai 118% dari target, terutama dikontribusi aset di Aljazair, Malaysia, dan Tanzania.
Total produksi migas PIEP pada 2023 mencapai 213 ribu barel setara minyak per hari (kboepd). Angka itu112% dari target rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) sebanyak 194 kboepd.
Tarik Investasi ke Indonesia
Pertamina, kata Nicke Widyawati, juga berupaya membantu pemerintah menarik investasi migas dari negara-negara Timur Tengah, termasuk Irak, ke Indonesia.
“Kami punya kesempatan meng-invite mereka ke aset-aset Indonesia. Ini diplomasi yang terus kami lakukan. Sebab di negara-negara tersebut, kami memang punya kesempatan dan harusnya bisa,” tandas dia.
Baca Juga
Mantap! Pertamina Himpun Laba Bersih Rp 72 Triliun Tahun 2023
Nicke Widyawati mencontohkan, penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali, dua tahun silam, berdampak sangat positif terhadap iklim investasi di Tanah Air, khususnya investasi migas.
“Jadi, kalau kita undang kembali, pasti mereka datang. Berikutnya mereka datang dengan all family, juga trade dan tourism-nya,” ucap dia.

