Dipicu Faktor Ini, Hilirisasi Batu Bara Kembali Tersendat
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan hilirisasi batu bara kembali harus tersendat. Persoalannya, Indonesia belum memiliki teknologi yang memadai untuk menunjang proses hilirisasi tersebut.
Sebagai informasi, hilirisasi batubara ini akan digarap oleh PT Kaltim Prima Coal (KPC) bersama dengan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) melalui gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME). Mereka menggandeng perusahaan asal Amerika Serikat (AS), Air Products, untuk teknologinya.
Baca Juga
Kendati demikian, Air Products memutuskan mundur dari proyek tersebut. Tak ayal, kondisi ini membuat hilirisasi batu bara menjadi tersendat, karena harus mencari partner lain untuk teknologinya.
“Yang punya teknologi mundur. Kita belum punya teknologinya. Cari partner lain, nah itu gak tau, itu kan B2B. Nah, PTBA lagi cari partner baru,” ungkap Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batu Bara, Irwandy Arif, saat ditemui di Sekretariat Kementerian ESDM, Jumat (17/5/2024).
Irwandy Arif menyampaikan, pemerintah membuka lebar kesempatan untuk bekerja sama dalam proyek hilirisasi batu bara ini kepada negara manapun. Menurutnya, yang terpenting perusahaan tersebut bisa memberikan teknologi yang andal dengan harga murah.
Baca Juga
Kementerian ESDM Sebut Konflik Iran-Israel Tak Pengaruhi Harga Batu Bara
“Semuanya terbuka. Kita gak terbatas untuk membatasi negara-negara bekerja sama di bidiang hilirisasi. Tinggal mereka kompetisi. Pastinya Indonesia maunya yang murah, yang teknologinya bisa dijamin keandalannya,” jelas dia.
Terkait arah hilirisasi batubara sendiri, pemerintah masih akan mendorong untuk produksi DME. DME sendiri merupakan salah satu jenis alternatif bahan bakar pengganti LPG.
“Kita lihat defisit terbanyak di mana? Minyak impor dan LPG impor kan? Nah, maksudnya kalau DME itu jadi, dia jadi substitusi untuk LPG, jadi bisa mengurangi defisit,” terang Irwandy Arif.

