Kementan Yakin RI Bisa Jadi Produsen Pakan Ternak Besar Dunia
JAKARTA, Investortrust.id – Kementerian Pertanian menyebut Indonesia berpotensi menjadi produsen pakan ternak besar dunia dengan segala sumber daya alam dan SDM yang tersedia. Kementan pun terus mendorong para pelaku usaha aktif mencari peluang pasar internasional untuk memperbesar pangsa.
"Indonesia berpotensi menjadi produsen pakan ternak, salah satunya dengan mendorong para pelaku usaha agar aktif mencari peluang pasar internasional" kata Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Harvick Hasnul Qolbi usai melepas ekspor perdana PT. Nutricell Pacific ke Jepang, Senin (29/1/2024).
Disampaikan Wamentan, dengan memanfaatkan potensi yang ada, Indonesia dapat mengekspor berbagai macam kebutuhan dunia sehingga para petani peternak di sektor hulu juga dapat menikmati hasil kerja kerasnya.
"Utamanya ke depan kita akan lebih giatkan di sektor-sektor yang lain, bukan hanya di peternakan tetapi juga di pertanian dan perkebunannya kita maksimalkan", jelasnya.
Sekedar informasi saja, salah satu target Kementerian Pertanian adalah peningkatan ekspor komoditas pertanian. Berdasarkan data BPS, neraca ekspor impor pertanian tahun 2023 menunjukkan angka positif dengan selisih nilai ekspor terhadap impor mencapai US$ 3,307.2 miliar.
Begitu pula dengan kinerja ekspor komoditas peternakan pada periode Januari – Desember Tahun 2023 (angka sementara) tercatat senilai US$ 1.37 miliar setara Rp. 21,3 triliun, dengan pertumbuhan nilai ekspor meningkat sebesar 2,2 % dan pertumbuhan volume ekspor meningkat 5,58% dibandingkan periode yang sama Tahun 2022.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Nasrullah pada kesempatan yang sama menyampaikan, selama ini perhatian banyak tertuju pada sektor pangan dalam rangka pemenuhan pangan dunia, namun jika melihat dari sisi non pangan juga terdapat kontribusi yang besar.
Sektor non pangan Indonesia telah memberikan kontribusi sebesar 165.022 ton atau menyumbangkan 35% dari total capaian ekspor peternakan tahun 2023 yang mencapai 470.119 ton.
"Untuk itu sektor non pangan bisa lebih dieksplore lagi untuk perluasan target pasar serta peningkatan volume ekspornya”, ujarnya.

