Sejauh 483 Kilometer, Sayur Mayur itu Berasal
JAKARTA, investortrust.id - Pernahkah Anda bertanya dan berpikir: dari mana asal bahan makanan yang terhidang di hadapan Anda? Pada H+3 Lebaran, Asep Sumantri, 49 tahun, membantu saya menyusuri jawabannya.
Asep menyulut sebatang rokok putihnya. Dia jongkok di bawah atap terpal yang menutupi bak truknya. Dia mulai menjelaskan perjalanannya dari Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat ke Pasar Gede Hardjonagoro, Surakarta, Jawa Tengah.
Lebih dari 14 jam waktu yang dia tempuh. Sekitar 483 kilometer jika diperkirakan menggunakan aplikasi Google Map.
"Saya berangkat sekitar jam 14.00 WIB," kata Asep, sembari menjentik ujung rokoknya untuk merontokkan abu rokok yang mulai memanjang.
Asep meraih ujung bawah kaos kuning lengan panjang yang dikenakan. Mengangkatnya untuk mengalahkan rasa penat dan gerahnya di dalam gerobak truk miliknya, memperlihatkan keringat yang mengucur di perutnya.
Baca Juga
Ia mewarisi tradisi berdagang sayur dari ayahnya. Dia menjual berbagai sayuran. Dari bak truk terlihat tomat, kol, paprika, dan sawi, serta pakcoy.
Setelah menjajal pasar di Jakarta dan Tangerang, dia beralih ke sejumlah pasar arah timur.
"Saya di sini (Pasar Gede) sejak 1994," ujar dia.
Dari lama dia berjualan inilah, terlihat Asep telah paham bahasa Jawa krama madya. Tingkat bahasa alus dari yang muda ke yang tua. Dia juga paham pesanan apa yang dititip kepadanya beberapa hari sebelum berangkat.
"Mboten. Sampun sedaya (Enggak. Sudah semua dibawa)" kata dia menjawab pertanyaan seorang pedagang sayur yang ingin mengambil pesanan.
Asep punya 14 pedagang langganan di Pasar Gede. Selain pasar ini, dalam perjalanan dari Lembang ke Pasar Gede, dia juga berhenti di Kota Pelajar, Yogyakarta.
"Pelanggan di Pasar Pathuk, belakang Malioboro ada 3, di Pasar Giwangan ada 3," ujar dia.
Asep bercerita dua hari sekali menempuh perjalanan panjang memasok sayur mayur. Dia bercerita saat Ramadan lalu bak truk ukuran mediumnya penuh dengan sayur mayur.
"3-4 ton kayaknya," ucap dia.
Asep menikmati perjalanan memasok sayuran. Meski, usianya terus menua. "Ya mau gimana lagi dari bujang, sampai punya cucu satu," kata dia tersenyum.

