Tak Mau Indonesia Cuma Jadi Pasar AI, Pemerintah Genjot Talenta dan Riset Anak Bangsa
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah tidak mau Indonesia hanya menjadi pasar industri kecerdasan buatan (AI). Agar negeri ini menjadi pemain utama dalam rantai pasok (supply chain) global AI, pemerintah menggenjot talenta, riset, serta pengembangan industri dan ekosistem AI karya anak bangsa.
"Indonesia saat ini belum sepenuhnya masuk dalam rantai pasok global industri AI. Karena itu, kita harus bangun (dari sekarang),” ujar Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria dalam forum diskusi bertajuk "Peta Jalan AI Indonesia untuk Kedaulatan Digital dan Ketahanan Nasional” di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Menurut Nezar, Indonesia harus membangun ekosistem industri AI dan mempersiapkan serta memperkuat talenta digital di dalam negeri. “Kita memiliki cukup banyak tenaga kerja yang tumbuh sebagai bonus demografi,” ujar dia.
Baca Juga
Adopsi AI Tembus 92%, Pemerintah Jadikan Kecerdasan Buatan Pilar Produktivitas Nasional
Nezar Patria memperkirakan Indonesia membutuhkan sekitar 12 juta tenaga kerja dengan kompetensi digital pada 2030. Namun, kebutuhan itu tidak mungkin dipenuhi oleh pemerintah sendiri. “Perlu kolaborasi lintas sektor, dari perguruan tinggi, lembaga riset, hingga perusahaan-perusahaan teknologi global,” tegas dia.
Pemerintah sendiri, kata dia, telah membuka sejumlah kerja sama di bidang semikonduktor dan teknologi digital saat Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan ke Jepang, Amerika Serikat (AS), dan Tiongkok, beberapa waktu lalu.
“Pengembangan talenta digital sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur dan ekosistem. Karena itu, universitas-universitas akan menjadi bagian penting dalam pengembangan talenta digital bangsa ke depan,” jelas dia
Sebagai bagian dari upaya melahirkan talenta-talenta unggul di bidang digital, dalam forum tersebut dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Yayasan Pendidikan Universitas Presiden dan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Komdigi guna memperkuat pengembangan talenta digital nasional, terutama mahasiswa-mahasiswa President University.
"Saya sangat menghargai kerja sama ini. Tidak ada negara maju yang berhasil hanya dengan pemerintah saja. Tidak ada inovasi besar yang lahir tanpa ekosistem. President University sejak awal memang dibangun di tengah kawasan industri agar pendidikan tidak terpisah dari dunia nyata,” imbuh Founder and Chairman PT Jababeka Tbk, founder President University, dan President Club, Setyono Djuandi Darmono.
Baca Juga
Workshop ION Rampung, Peserta Pamerkan Platform E-Commerce dengan Asistensi AI
Sementara itu, dalam diskusi, para peserta membahas pentingnya percepatan implementasi AI nasional melalui kolaborasi konkret. Sayed Musaddiq, salah satu peserta, menilai implementasi AI di Indonesia perlu didorong lebih agresif melalui program-program konkret agar tidak tertinggal dari negara lain.
Alumni Lemhannas Program Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N), Andrie Tjioe mengusulkan adanya program pelatihan AI bagi para guru di Indonesia untuk mempercepat lahirnya talenta digital sejak dini yang pernah dilakukan pemerintah sebelumnya.
Andrie menyatakan siap bekerja sama karena pihaknya telah memiliki training center untuk robotik, AI, dan drone, termasuk pengembangan pusat riset dan inovasi AI. “Kalau tidak ada yang dilatih, akan sulit berkembang. Kedaulatan digital bisa tercapai, tetapi mungkin akan membutuhkan waktu lebih lama,” ungkap dia.

