'Grand Opening' LPK TLC (TEN Learning Centre) Kopeng, Kabupaten Semarang: TEN Siapkan Pekerja Indonesia untuk Pasar Jepang
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Triputra Edukasi Nusantara (TEN) mempercepat transformasi pendidikan vokasi melalui grand opening TEN Learning Centre di Kopeng, Kabupaten Semarang, yang menjadi titik awal pembangunan jalur langsung dari ruang kelas menuju pasar kerja global, khususnya Jepang. Program pendidikan dan pelatihan ini dirancang dalam siklus sekitar enam bulan hingga peserta siap bekerja dan ditempatkan di luar negeri.
Peresmian pada 20 April 2026 tersebut sekaligus menandai dimulainya pelatihan Batch 1 di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) itu. Dari kapasitas per batch 15-25 peserta, pada Batch ke-1 sebanyak 15 peserta mengikuti pelatihan intensif di fasilitas berkapasitas hingga 175 orang, sebagai tahap awal dari ekspansi untuk mencetak tenaga kerja Indonesia berstandar internasional.
Dalam perbincangan dengan investortrust.id, Minggu (26/04/2026), CEO TEN, Yohanes Tan, menegaskan bahwa TEN Learning Centre bukan sekadar pusat pelatihan, melainkan bagian dari strategi besar membangun end-to-end ecosystem—sebuah “rantai pasok tenaga kerja” yang mengintegrasikan dimulai dari pendidikan, pelatihan, penempatan kerja hingga peserta tersebut kembali ke Indonesia (repatriasi).
Baca Juga
Triputra Agro (TAPG) Optimalkan Limbah POME Jadi Listrik Mandiri
“Baru 20 April lalu kami launching batch pertama. Memang hasilnya belum terlihat karena butuh sekitar enam bulan untuk ‘panen’, artinya lulusan siap kerja dan siap ditempatkan,” ujar Yohanes.
Jalur Cepat ke Jepang
Program awal difokuskan pada pelatihan caregiver untuk Jepang, menjawab kebutuhan besar tenaga kerja di sektor perawatan lansia akibat penuaan populasi. Peserta dilatih dari nol, mencakup bahasa Jepang, keterampilan teknis/skill, pemahaman budaya kerja, serta pembentukan karakter berbasis nilai “Triputra DNA”. Untuk pelatihan Bahasa jepang dibantu oleh OPA (Overseas Partner Academy) Japan sekaligus menjadi Rekan Kerjasama TEN untuk penempatan tenaga kerja di Jepang.
“Kami latih mereka dari nol bahasa Jepang, keterampilan caregiver, hingga disiplin dan karakter. Ada target minimal yang disyaratkan Jepang dan dengan kualifikasi itu mereka bisa langsung bekerja dan beradaptasi,” kata Yohanes.
Selain caregiver, TEN juga mengembangkan jalur untuk profesi lain seperti pengemudi profesional, teknisi dan maintenance gedung, dan sektor pertanian modern, dengan standar kompetensi skill yang sesuai dengan profesi dan Bahasa jepang yang disesuaikan dengan kebutuhan industri.
Jepang dipilih sebagai pintu masuk karena tingginya permintaan tenaga kerja di berbagai sektor. “Market Jepang sangat besar, berdasarkan data dari Embassy of Japan di Indonesia bahwa kebutuhan tenaga kerja di Jepang dalam 5 tahun kedepan sebesar 820.000 tenaga kerja yang terbagi dalam 12 bidang pekerjaan. Bahkan untuk pengemudi profesional pun ada permintaan yang tinggi di Jepang. Dengan pendapatan gajinya mencapai 250.000 JPY hingga 300.000 JPY (ini setara dengan Rp 25.000.000 hingga Rp 30.000.000 per bulan),” ujarnya.
TEN mengusung model penempatan berbeda dari praktik pada umumnya. Perusahaan tidak menggunakan perantara/pihak ketiga dalam proses penempatan tenaga kerja, melainkan TEN bersama OPA Japan, secara langsung menjalin kemitraan dengan pemerintah Jepang, asosiasi profesi seperti asosiasi caregiver, asosiasi transportasi, dan lainnya), serta perusahaan pengguna tenaga kerja di Jepang. Dengan ini, seluruh proses penempatan menjadi lebih transparan, efektif, dan terkontrol dengan baik.
“Kami pastikan pekerja mulai tiba di Jepang sampai penempatan dan selama bekerja di Jepang dibantu dipantau secara berkala, dan dilindungi”. Ini penting untuk menghindari eksploitasi,” tegas Yohanes.
Baca Juga
Menaker: BLK Disiapkan Jadi Klinik Produktivitas dan Inkubator Bisnis
Saat ini, lima kandidat caregiver telah memiliki sertifikat Bahasa Jepang dan Kaigo tengah menyelesaikan administrasi dengan target pengiriman perdana pada Juni 2026. TEN menargetkan pengiriman hingga 300 caregiver per tahun melalui pelatihan internal dan kolaborasi dengan lembaga lain dalam skema Specified Skilled Worker (SSW).
Sinergi dengan Pemerintah
TEN juga menjajaki kerja sama dengan pemerintah untuk menjadikan Jawa Tengah sebagai proyek percontohan pusat migrasi tenaga kerja (migrant centre), sejalan dengan penguatan perlindungan pekerja migran Indonesia. “Kami diundang untuk menjadi bagian dari pilot project. Harapannya, ini bisa menjadi model nasional,” ujar Yohanes.
Ia menilai kehadiran Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia menjadi momentum penting, mengingat Indonesia memiliki kelebihan tenaga kerja sementara permintaan di luar negeri —termasuk Jepang, korea dan Eropa— terus meningkat.
TEN tidak hanya berorientasi pada penempatan tenaga kerja, tetapi juga mendorong transfer pengetahuan. Tenaga kerja di sektor pertanian Jepang, misalnya, diharapkan membawa pulang teknologi dan praktik modern untuk diterapkan di Indonesia.
Ekspansi Institusi Pendidikan
Di luar TEN Learning Centre, TEN mengelola jaringan institusi pendidikan formal yang terus berkembang. Dua institusi yang dikelola langsung oleh TEN adalah Universitas Pignatelli Triputra (UPITRA) di Solo dan Politeknik Cristo Re Maumere di Flores.
Di samping itu, TEN sebagai bagian dari strategi membangun ekosistem pendidikan terintegrasi dari vokasi hingga perguruan tinggi bersama Phinma Education Philippines saat ini mengelola dua institusi yaitu Universitas Horizon Karawang dan Universitas Kalbis Jakarta dan tahun depan diharapkan dapat menambah kampus di Surabaya. Total peserta didik dalam ekosistem TEN kini mendekati 7.000 mahasiswa, dengan kampus Universitas Horizon Karawang menjadi yang terbesar dan berpotensi tumbuh hingga 5.000 mahasiswa.
Sebagai bagian rencana ekspansi Universitas Pignatelli Triputra (UPITRA) Solo, UPITRA melakukan alih Kelola dengan Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri ke dalam UPITRA, yang diproyeksikan pertumbuhan UPITRA pada tahun akademik 2026/2027 memiliki lebih dari 1.000 mahasiswa dengan 12 program studi Sarjana (S1).
Politeknik Cristo Re Maumere saat ini memiliki 200 mahasiswa dan ditargetkan tumbuh menjadi 350 mahasiswa, seiring penguatan program studi dan pengembangan fasilitas.
Pendidikan Berbasis Outcome
TEN menekankan pendekatan outcome-based education (OBE), memastikan lulusan memiliki jalur karier yang jelas, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. “Kami tidak ingin hanya mencetak sarjana pengangguran. Lulusan harus punya pilihan nyata masuk industri dalam negeri atau bekerja di luar negeri,” kata Yohanes.
Baca Juga
Pelatihan Vokasi Diselaraskan dengan Industri KEK, Kemenaker Siapkan 60 Ribu Kuota Pelatihan
Didirikan pada tahun 2021 di bawah Triputra Group dengan dukungan Persada Capital Investama, TEN mengusung visi membangun dan mengelola jaringan institusi pendidikan yang berkualitas dan terjangkau di Indonesia. Visi tersebut diarahkan untuk menciptakan generasi muda yang profesional berwawasan global sekaligus berkarakter Pancasila, yang mampu menjawab tantangan di dalam dan di luar negeri.
Misi TEN dijalankan melalui pengembangan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan industri, pembentukan karakter, serta pengabdian kepada masyarakat. Seluruh proses ini berlandaskan nilai inti “Triputra DNA”, yang mencakup integritas, keunggulan, kepedulian, dan kerendahan hati.
TEN meyakini bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi proses membangun manusia seutuhnya, memiliki kompetensi, karakter, dan tanggung jawab sosial.
Ke depan, TEN menargetkan ekspansi penempatan tenaga kerja tidak hanya ke Jepang tetapi juga ke berbagai negara lain seperti Jerman, Korea Selatan, dan Australia. Selain itu, TEN juga berkomitmen membuka kases kesempatan kerja yang lebih luas lagi bagi masyarakat di daerah, seperti Nusa Tenggara Timur. “Banyak anak muda di daerah yang ingin bekerja, tapi tidak punya akses. Kami ingin menjembatani itu,” ujar Yohanes.
Dengan strategi terintegrasi dari pendidikan hingga penempatan kerja global, TEN membangun jalur baru mobilitas sosial. Dari Kopeng, Kabupaten Semarang, langkah itu dimulai, menghubungkan tenaga kerja Indonesia dengan peluang kerja dunia.

