Bagikan

Investor Manfaatkan Aksi Beli Murah, Harga Emas Menguat

Poin Penting

Harga emas naik 0,5% setelah aksi beli di tengah penurunan sebelumnya.
Ketegangan AS dan Iran serta konflik Timur Tengah dorong volatilitas pasar.
Suku bunga tinggi masih menekan daya tarik emas sebagai aset investasi.

JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas menguat pada Rabu (22/4/2026) setelah sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari sepekan pada sesi sebelumnya, didorong aksi beli investor yang memanfaatkan harga murah di tengah ketidakpastian geopolitik dan belum jelasnya kelanjutan perundingan Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Pergerakan ini menunjukkan pasar logam mulia masih sensitif terhadap dinamika global, terutama terkait konflik Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Harga emas naik 0,5% menjadi US$ 4.735,65 per ons, setelah sempat menguat hingga 1% dalam sesi perdagangan. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni ditutup naik 0,7% ke level US$ 4.753,00.

Analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff mengatakan kenaikan ini dipicu oleh aksi beli setelah penurunan tajam pada sesi sebelumnya. “Persepsi aksi beli murah setelah kerugian pada hari Selasa (21/4/2026) juga terlihat di pasar logam mulia (emas dan perak),” kata Wyckoff.

Di sisi geopolitik, ketegangan kembali meningkat setelah Iran menyita dua kapal di Selat Hormuz pada Rabu. Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyatakan blokade terhadap Iran akan tetap berlangsung, tanpa memberikan kepastian waktu terkait potensi gencatan senjata.

Namun demikian, belum terlihat adanya tanda-tanda dimulainya kembali perundingan damai antara kedua negara, yang sebelumnya diharapkan dapat meredakan ketegangan.

Baca Juga

Harga Emas Antam (ANTM) Naik Rp 40.000 di Tengah Tekanan Global

Situasi di kawasan Timur Tengah juga diperburuk oleh konflik Israel dan Lebanon. Gencatan senjata di wilayah tersebut berada dalam tekanan setelah serangan pesawat nirawak Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya tiga orang di Lebanon.

Kepala strategi komoditas global TD Securities Bart Melek mengatakan pergerakan harga emas masih dipengaruhi ekspektasi pasar terhadap penyelesaian konflik, khususnya di Selat Hormuz.

Ia menilai penurunan sebelumnya terjadi karena ekspektasi meredanya ketegangan, namun kondisi tersebut masih sangat rapuh. “Situasinya sangat rapuh dan tidak pasti,” kata Melek, menegaskan bahwa volatilitas harga emas masih tinggi.

Ilustrasi emas. Foto: ICDX

Suku Bunga

Dalam beberapa waktu terakhir, harga emas tercatat turun sekitar 11% sejak konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iren meningkat pada akhir Februari. Lonjakan harga minyak pada periode tersebut sempat memicu kekhawatiran inflasi global.

Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga justru menekan daya tariknya. Hal ini karena emas tidak memberikan imbal hasil, sehingga kurang kompetitif dibandingkan instrumen berbunga tinggi.

Baca Juga

Harga Emas Melemah Saat Dolar dan Minyak Menguat

Dalam perkembangan lain, calon Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh menyatakan tidak memberikan komitmen kepada Presiden Donald Trump terkait kebijakan penurunan suku bunga. Ia menegaskan akan tetap menjaga independensi bank sentral dalam mengambil keputusan.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian investor karena arah kebijakan suku bunga The Fed sangat memengaruhi pergerakan harga emas ke depan.

Sementara itu, logam mulia lainnya juga mencatat penguatan. Harga perak naik 1,4% menjadi US$ 77,80 per ons, platinum naik 2,1% ke US$ 2.079,80, dan paladium menguat 1,3% menjadi US$ 1.553,43.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024