Percepat Proyek Manpatu, Pertamina Hulu Mahakam Siap Pasang 'Topside' 1.000 Ton
Poin Penting
|
TANJUNG PINANG, Investortrust.id - PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), anak usaha PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) di sektor hulu migas, menyelesaikan tahap load out dan sail away topside proyek pengembangan Lapangan Migas Manpatu yang menandai kemajuan penting menuju target produksi gas pada kuartal I 2027.
PT Pertamina Hulu Mahakam, melaksanakan seremoni di fasilitas fabrikasi milik PT Meindo Elang Indah, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, sebagai bagian percepatan proyek strategis nasional tersebut.
General Manager PHM Setyo Sapto Edi mengatakan tahapan ini merupakan lanjutan sail away jacket yang telah dilakukan sebelumnya pada Selasa (8/4/2026). "Proses load out dan sail away topside tergolong operasi berisiko tinggi dan membutuhkan presisi tinggi, sehingga keberhasilannya mencerminkan kesiapan proyek memasuki fase instalasi di wilayah operasi lepas pantai," kata dia dikutip Selasa (21/4/2026).
Topside dengan berat sekitar 1000 ton diangkut menggunakan kapal kargo dan menempuh jarak sekitar 1.930 km menuju lokasi proyek di lepas pantai Balikpapan dengan estimasi perjalanan 15 hari. Fasilitas ini menjadi pusat pengolahan, pengeboran, sistem kontrol, utilitas, serta akomodasi pekerja di anjungan migas.
Baca Juga
2 Proyek, 1 Misi PHM! 'Sail Away' & 'First Cut of Steel' Tandai Babak Baru Migas Nasional
"Dengan kapasitas desain mencapai 80 juta standar kaki kubik per hari, proyek ini diharapkan dapat meningkatkan produksi gas dan kondensat dari wilayah kerja PHM," kata dia.
Setyo menilai keberhasilan tahap fabrikasi topside mencerminkan kolaborasi kuat antara pemerintah, perusahaan, mitra kerja, dan kontraktor. “Penyelesaian tahap fabrikasi Topside ini merupakan wujud kerja keras dan hasil kolaborasi yang solid seluruh tim yang didukung oleh berbagai pemangku kepentingan,” ujarnya.
Setyo menegaskan proyek Manpatu menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga keberlanjutan investasi dan optimalisasi produksi dari lapangan migas yang telah berumur. "Proyek ini merupakan kontribusi nyata terhadap ketahanan energi nasional di tengah tantangan penurunan produksi dari lapangan eksisting," kata dia.
Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji menyampaikan proyek ini memiliki kontribusi signifikan terhadap upaya menjaga lifting migas di wilayah tersebut. Ia juga mengapresiasi keterlibatan lebih dari 360 tenaga kerja terampil asal Kalimantan Timur dalam proses fabrikasi.
“Di saat banyak pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh beberapa perusahaan Kalimantan Timur, PHM memberikan kontribusi yang sangat berarti untuk penyerapan tenaga kerja terampil dari Kalimantan Timur melalui kontraktor PT Meindo Elang Indah yang mengerjakan Proyek Manpatu,” ujarnya.
Proyek Fast Track dan Standar Keselamatan
Proyek Manpatu tercatat sebagai proyek fast track yang dimulai dari penemuan sumur eksplorasi Manpatu-1X pada 2022. Tahapan desain awal dilaksanakan sepanjang 2023 hingga 2024 sebelum memasuki fase konstruksi yang ditandai dengan pemotongan baja pertama pada 16 Mei 2025.
Lingkup proyek mencakup pembangunan satu anjungan baru dengan jacket dan piles seberat sekitar 1.380 ton, topside sekitar 1.000 ton, serta modifikasi fasilitas yang sudah ada. Selain itu, proyek ini juga mencakup pemasangan pipa bawah laut berdiameter 14 inch sepanjang sekitar 2,5 km serta pekerjaan subsea dengan kompleksitas tinggi. Secara keseluruhan, proyek ini akan mencakup pengeboran 11 sumur pengembangan.
Baca Juga
PHM Tuntaskan 'Load Out Jacket' Proyek Manpatu, Targetkan Produksi Gas 80 MMSCFD
Direktur Utama Pertamina Hulu Indonesia Sunaryanto menekankan pentingnya proyek ini dalam menjaga keberlanjutan energi nasional. “Proyek Pengembangan Manpatu ini bukan hanya tentang menambah produksi, tetapi merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan energi dan memperkuat ketahanan energi nasional secara berkelanjutan khususnya dari wilayah Kalimantan,” ujarnya.
Ia menambahkan keberhasilan proyek ini menunjukkan kemampuan industri migas nasional dalam menghadapi tantangan melalui kolaborasi dan inovasi.
Sunaryanto juga menegaskan bahwa aspek keselamatan kerja tetap menjadi prioritas utama. Hingga Maret 2026, proyek ini mencatatkan lebih dari 2 juta jam kerja tanpa kehilangan jam kerja akibat kecelakaan atau Lost Time Incident.
“Dengan capaian lebih dari dua juta jam kerja tanpa kehilangan jam kerja karena kecelakaan hingga Maret 2026, PHI melalui anak perusahaannya PHM berkomitmen untuk menjaga standar Health, Safety, Security, and Environment secara konsisten hingga seluruh rangkaian proyek selesai,” ujarnya.

