Margin Usaha Lanjut Tren Penurunan Sejak Kuartal II 2024
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Margin usaha dunia usaha di Indonesia diperkirakan masih melanjutkan tren penurunan sejak semester II-2024. Di tengah ekspansi kegiatan usaha yang masih berlangsung, tekanan pada profitabilitas perusahaan belum juga mereda, menandakan bahwa dunia usaha masih menghadapi kombinasi biaya yang tinggi, ruang penyesuaian harga jual yang makin sempit, dan pemulihan konsumsi yang belum sepenuhnya merata.
Hal itu tercermin dalam BRI Weekly Economic Update W3 April 2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, di Jakarta, Selasa (20/04 2026), dengan mengacu pada olahan data Bank Indonesia, CEIC, Bloomberg, IIF, dan CME FedWatch. Dalam laporan tersebut disebutkan, margin usaha diperkirakan turun menjadi 16,02% pada semester I-2026, melanjutkan penurunan dari level puncak pada semester II-2024. Sebelumnya, margin usaha tercatat di kisaran 17,92% pada semester I-2024, lalu turun menjadi 16,61% pada semester II-2024, sempat bergerak ke 16,70% pada semester I-2025, dan kembali melemah ke 16,02% pada semester I-2026.
Baca Juga
Realisasi Belanja Nasional 2026 Tembus Rp184 Triliun, Sinyal Penguatan Daya Beli Masyarakat
Penurunan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap laba usaha tidak lagi bersifat sektoral semata, melainkan telah menjalar cukup luas. Dari 17 sektor, sebanyak 12 sektor tercatat mengalami penurunan margin usaha pada semester I-2026. Sektor-sektor produktif dengan bobot ekonomi besar seperti agrikultur, pertambangan, manufaktur, hingga perdagangan besar dan eceran termasuk yang mengalami pelemahan. Gambaran ini memberi sinyal bahwa dunia usaha menghadapi tekanan biaya yang relatif masih tinggi, sementara kemampuan meneruskan kenaikan biaya ke harga jual semakin terbatas karena daya beli masyarakat belum pulih penuh.
Di sektor agrikultur, margin usaha turun dari 18,79% pada kuartal IV-2025 menjadi 18,67% pada kuartal I-2026. Di sektor pertambangan, penurunannya lebih terasa, dari 22,77% menjadi 20,91%. Sektor manufaktur juga melemah dari 18,15% menjadi 17,29%, sedangkan perdagangan besar dan eceran turun dari 19,93% menjadi 18,88%. Penurunan pada sektor-sektor utama ini penting dicermati karena sektor-sektor tersebut selama ini menjadi penopang utama aktivitas ekonomi, tenaga kerja, dan permintaan pembiayaan.
Laporan BRI juga menunjukkan bahwa tekanan profitabilitas itu terjadi ketika ekspansi kegiatan usaha mulai melambat. Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia mengindikasikan bahwa saldo bersih tertimbang (SBT) aktivitas usaha turun dari 10,61% pada kuartal IV-2025 menjadi 10,11% pada kuartal I-2026. Artinya, mayoritas sektor memang masih berekspansi, tetapi lajunya tidak sekuat kuartal sebelumnya. Dari 17 sektor, sebanyak 13 sektor mengalami perlambatan ekspansi, satu sektor yakni pertambangan kembali kontraksi, dan hanya empat sektor yang mencatat penguatan.
Baca Juga
Perlambatan ini terjadi bersamaan dengan tanda-tanda bahwa konsumsi domestik belum pulih merata. Penjualan ritel pada Februari 2026 memang tumbuh 6,5% year on year, lebih tinggi dari 5,7% pada Januari 2026, tetapi penguatannya belum merata, baik antarjenis barang maupun antarwilayah. Untuk Maret 2026, pertumbuhan penjualan ritel bahkan diperkirakan melambat menjadi 2,4%. Pola ini memperkuat dugaan bahwa rumah tangga masih melakukan realokasi pengeluaran, sehingga dunia usaha kesulitan menaikkan harga tanpa berisiko menekan permintaan lebih jauh.
Dengan kata lain, tekanan terhadap margin usaha terjadi di tengah kualitas pertumbuhan konsumsi yang belum kokoh. Biaya usaha tetap terasa, namun ruang untuk memperbaiki harga jual atau memperluas volume belum cukup kuat. Kombinasi ini membuat profitabilitas perusahaan tergerus, meskipun secara umum kegiatan usaha masih berada di zona ekspansi.
Di sisi lain, utilisasi kapasitas produksi justru meningkat tipis menjadi 73,33% pada kuartal I-2026 dari 73,15% pada kuartal IV-2025, terutama didorong sektor agrikultur dan manufaktur. Ini menunjukkan bahwa aktivitas produksi tetap berjalan, namun kenaikan pemanfaatan kapasitas belum otomatis berujung pada penguatan margin. Artinya, volume produksi bisa saja naik, tetapi efisiensi dan kemampuan menjaga laba belum sepenuhnya pulih.
Baca Juga
Realisasi investasi juga menunjukkan perlambatan. Nilai SBT realisasi investasi turun dari 9,54% pada kuartal IV-2025 menjadi 5,39% pada kuartal I-2026. Mayoritas sektor mencatat perlambatan, bahkan pertambangan mengalami kontraksi. Kondisi ini menandakan bahwa dunia usaha cenderung lebih berhati-hati di awal tahun, baik karena faktor musiman maupun meningkatnya ketidakpastian global.
Bagi perbankan, perkembangan ini menjadi sinyal penting. Laporan BRI menegaskan bahwa strategi penyaluran kredit perlu dilakukan lebih selektif, dengan fokus pada sektor-sektor yang masih memiliki margin kuat dan ketahanan arus kas yang baik. Pada saat yang sama, penguatan manajemen risiko menjadi kunci, terutama pada sektor-sektor yang mengalami tekanan profitabilitas lebih dalam.
Secara lebih luas, tren penurunan margin usaha sejak semester II-2024 menunjukkan bahwa tantangan dunia usaha kini bukan lagi sekadar bertahan di tengah perlambatan, tetapi menjaga laba di tengah biaya yang masih tinggi dan permintaan yang pulih secara tidak merata. Selama tekanan tersebut belum mereda, profitabilitas korporasi akan tetap berada dalam tekanan, dan itu pada akhirnya dapat memengaruhi ekspansi usaha, investasi, serta kebutuhan pembiayaan ke depan.

